SKRIPSI: BAB II KAJIAN PUSTAKA

skripsi ini ditulis oleh
Rendra Siswoyo, S.S
062144024
UNESA LIDAH WETAN
email : S3ven_l3vel@yahoo.com
085 645 068 266

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini yakni penelitian yang dilakukan oleh Mansurudin berjudul “perlawanan dalam lirik pengamen jalanan; kajian semiotik”, sebuah tesis. Teori semiotik Charles Sanders Peirce digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tersebut. Teori semiotik Charles Sanders Peirce yang digunakan ditekankan pada konsep representamen yang mengerucut pada Ikon, Indeks dan Simbol.
Teori Marx yakni teori perlawanan, digunakan untuk mengkaji representasi lirik pengamen. Dan didukung pula dengan kajian teori perlawanan, yang merujuk pada konsep “ekonomi politik” yang gagas oleh Poplin serta “perlawanan kelas” yang dikembangkan oleh Scott.
Penelitian yang dilakukan Mansurudin memfokuskan penelitannya pada sistem tanda sebagai berikut.
1. Makna dalam lirik lagu pengamen jalanan
a. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui ikon
b. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui indeks
c. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui simbol

2. Bentuk-bentuk perlawanan dalam lirik pengamen jalanan
3. Sasaran yang dikritik berdasarkan teks lirik pengamen jalanan
4. Klasifikasi pengamen dan tema lirik pengamen jalanan.
Penelitian di atas berbeda dengan penelitian ini walaupun memiliki relevansi untuk memperkaya kajian dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Mansurudin tersebut memfokuskan pada perlawanan pengamen dengan menggunakan kajian semiotik dan diperdalam dengan teori ideologi sosialis dengan tokohnya Karl Marx. Penelitian Mansurudin menggunakan dua kajian yakni kajian Peirce dan kajian Karl Marx. Berbeda dengan penelitian ini yang hanya menggunakan satu kajian yakni kajian Peirce. Penelitian ini lebih menekankan pada bagaimana makna yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah dalam trikotomi tanda.
Pembanding kedua untuk mendapatkan relevansi penelitian semiotik maka diambil penelitian sebelumnya dengan judul Struktur Puisi dan Makna tanda dalam Kumpulan Puisi Negeri Daging Karya Mustofa Bisri (Kajian Struktural Semiotik) yang dilakukan oleh Tsalis Abdul Azis Alfarizy (2010).
Penelitian yang dilakukan Azis ini memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yakni sama-sama menggunakan pisau analisis semiotik dan struktural dalam mengupas makna dari puisi. Rumusan masalah yang dikemukakan oleh Azis (2010) tersebut difokuskan pada dua hal yakni struktur puisi dan makna tanda yang terdapat dalam kumpulan puisi Negeri Daging. Fokus masalah yang dikemukakan pada Penelitian Azis tersebut nampak bahwa teori yang digunakan kental kaitannya dengan Semiotik dan Strukturalisme atau disebut oleh Teeuw (dalam Pradopo, 1995:146) sebagai strukturalisme dinamik.
Persamaan yang terdapat dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya (Azis, 2010) tentu terdapat perbedaan dalam beberapa hal, terutama dalam konsep kajian pustaka. Peneliti memandang berdasarkan kajian puisi yang dilakukan Pradopo dalam Pengkajian Puisi dan Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapaannya bahwa penelitian karya sastra yang menggunakan semiotik dan strukturalisme dapat diperdalam lagi dengan mengurai strukturnya dengan pembacaan semiotik: Heuristik dan Retroaktif. Pembacaan semiotik tersebut akan memberikan gambaran awal terhadap makna kedua dalam karya sastra, disebut pula sebagai parafrase dalam karya sastra. Selain itu untuk mempertebal makna yang terkandung dalam karya sastra yang akan dikaji maka perlu dilakukan penunjukan teks ke teks yang lain: hubungan intertekstual. Hubungan intertekstual lirik lagu Shoutul Khilafah dengan lirik lagu yang relevan lainya dapat memperkaya penyerapan makna pada objek penelitian yang dituju. Dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Azis yakni lebih memperdalam kembali struktur dengan pembacaan Heuristik dan Retroaktif serta penyerapan makna budaya lirik lagu dengan melakukan penunjukan teks satu ke teks yang lain yakni hubungan intertekstual liri lagu yang relevan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Strukturalisme
Struktur merupakan suatu susunan unsur-unsur yang bersistem (Pradopo, 2005:118). Bila dikaitkan dengan karya sastra maka karya sastra memiliki beragam unsur, misalnya dalam puisi terdapat unsur-unsur berupa lapis norma maka apabila unsur tersebut dikaitkan dengan struktur akan menjadi tinjauan yang menyeluruh dan memiliki kesatuan yang utuh terhadap unsur-unsur tersebut, begitulah hakikat dari suatu struktur.
Karya sastra perlu dianalisis agar dapat dipahami. Menganalisis secara struktural adalah upaya untuk memahami karya sastra secara utuh. Pradopo (2005:120) memberikan pengertian tentang analisis struktural sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam struktur sajak dan penguraian bahwa tiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur. Begitulah sebuah analisis yang tepat karena menjadikan unsur-unsur sebuah kumpulan fragmen yang saling berhubungan dan menjadi bagian-bagian dalam arti yang sebenarnya yakni dapat dipahami secara keseluruhan.
2.2.2 Semiotik
Coble and Jansz (dalam Sobur, 2006:16) bertutur tentang semiotik bahwa Discipline is simply the analysis of signs or the study of the functioning of sign systems (pengetahuan tentang kesederhanaan analisis dari tanda atau studi tentang fungsi dari sistem tanda). Dalam kehidupan sehari-hari manusia telah diliputi tanda disekitarnya, baik secara sadar maupun tak sadar. Ketika mahasiswa dikampus melihat sosok tubuh yang berpakaian resmi dengan memakai dasi, jas serta membawa banyak buku kita langsung dapat menilai bahwa seseorang tersebut adalah dosen. Hal tersebut dapat diketahui karena tanda yang berupa dasi, jas dan kerapiannya serta atribut yang lain mengindikatorkan bahwa dia berprofesi sebagai dosen, begitulah tanda menyelimuti kehidupan kita.
Bahasa juga merupakan tanda yang memiliki makna. Sebagaimana yang dituturkan oleh Pradopo (1995:121) bahwa bahasa sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang (tanda) yang mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi masyarakat. Sugiarto (dalam epilog cerpen Kompas pilihan 2005-2006) menyatakan bahwa dalam karya sastra semisal cerpen yang sifatnya pendek justru memaksa penulis untuk menimbulkan efek maksimal dengan cara minimal. Artinya dengan membentuk efek maksimal menggunakan cara minimal adalah pembentukan tanda dalam bahasa. Seseorang tak perlu banyak menguraikan kata, karena hanya dengan mengungkapkan satu bait puisi bisa mendeskripsikan makna yang beragam. Penerapan tanda secara konkret dalam sajak W.S Rendra yang berjudul di Meja Makan yakni kata-kata “sambal tomat pada mata”. W.S Rendra tak perlu mengungkapkan bagaimana pedih, perih baik dalam hati maupun mata dengan paragraf namun cukup dengan ungkapan yang minimal dengan efek maksimal yakni dengan ungkapan tanda “sambal tomat pada mata.
Seperti halnya puisi yang memiliki sifat minimali dengan efek maksimal dalam membentuk tanda, maka Tanda dalam lirik lagu Shoutul Khilafah dieksplorasi dengan menggunakan pisau analisis semiotik Charles Sanders Peirce. Dengan teori yang dicetuskan oleh Peirce lirik lagu Shoutul Khilafah dapat diketahui makna kedua (konotasi) yang diciptakan oleh tanda-tanda yang disebar di dalamnya. Dengan begitu pengungkapan makna lirik lagu tersebut dapat diterjemahkan kedalam makna yang sebenarnya.
2.2.3 Semiotik Charles Sanders Peirce
Peirce tercatat sebagai seorang paling orisinal dan multidimensional pemikirannya di antara teman-temannya (Zoest, 1993:8). Dialah pencetus ide ‘semiotika’ yang ia katakan bersinonim dengan ‘logika’ (Zoest, 1993:10). Peirce telah menyatakan bahwa semiotik ialah “ a relationship among asign, an object, and a meaning (suatu hubungan di antara tanda, objek dan makna)” Peirce (dalam little john, 1996:64). Pengertian Peirce tentang semiotik tersebut nampak ketika Peirce menjelaskan tiga unsur dalam tanda yaitu representamen, objek dan interpretan dalam segitiga semiotiknya. Lebih lanjut dapat dijelaskan tetang segitiga semiotika Peirce yang dikemukakannya.
2.2.3.1 Segitiga Semiotik Charles Sanders Peirce
Peirce (dalam Zaimar, 2008:4) menjelaskan tanda didalamnya terdapat tiga unsur yang dapat dijelaskan yakni representamen, objek, dan interpretan. Bagan berikut ini dapat mengambarkan ketiga unsur tadi.

Bagan 2.1 Segitiga Semiotik Charles Sanders Peirce
Peirce (dalam Noth, 2006:42) dipaparkan bahwa suatu tanda atau representamen, merupakan sesuatu yang mengacu pada seseorang atas sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda ini merujuk pada seseorang, yakni, menciptakan di dalam benak orang itu suatu tanda yang setara, atau mungkin yang lebih maju. Tanda yang diciptakan itu saya sebut interpretant atas tanda pertama. Tanda itu mengacu pada sesuatu, yakni object-nya. Itu mengacu pada objek itu, bukan dalam semua sisi, namun mengacu pada semacam ide”. Penjelasan berkaitan dengan kata kunci representamen, interpretant dan object sebagai berikut
Representamen merupakan istilah yang digunakan Peirce untuk menyebut “objek yang bisa dirasakan” yang berfungsi sebagai tanda (Peirce dalam Noth, 2006:42). Dalam kata sederhananya maka representamen adalah tanda itu sendiri dimana ahli semiotika yang lain seperti Morris mengatakan dengan bahasanya sign vehicle, signifier diungkapkan oleh Saussure dan Hjelmselv menyebutkan sebagai ekspresi. Hal tersebut dapat dimengerti bahwa representamen merupakan sebuah persepsi terhadap sesuatu yang diwakilinya yakni objek. Misalkan dalam analisi Mansurudin (Tesis) dijelaskan bahwa kata pahlawan tanpa tanda jasa itu merupakan representamen dari Oemar Bakri (objek).
Objek adalah sesuatu yang diwakili (Zaimar, 2008:4). Objek bisa berbentuk material atau sesuatu yang memiliki keberkenalan perseptual ataukah sekadar imaginaris atau batin akan hakikat tanda atau pemikiran (Peirce dalam Noth, 2006:43). Objek yang material bisa dIkontohkan pada benda atau manusia. Sedangkan Objek yang bersifat imaginaris atau batin dapat berupa sebuah ungkapan misalnya dalam kata janji elite (Mansurudin, Sebuah Tesis)
Interpretan adalah tanda yang tertera di dalam pikiran si penerima setelah melihat representamen (Zaimar, 2008:4). Dapat dIkontohkan jika objek adalah warna merah dalam bendera merah putih maka representamen adalah keberanian dan interpretan dari warna merah tersebut yakni tak gentar mengambil resiko.
Demikianlah ketiga unsur dalam tanda tadi bekerja. Namun terdapat syarat agar suatu representamen dapat menjadi tanda, yakni adanya ground. Sedangkan ground yang dimaksud disini adalah pengetahuan yang ada pada pengirim dan penerima tanda sehingga representamen dapat dipahami (Zaimar, 2008:4)
Lirik Lagu Shoutul Khilafah dalam analisisnya secara semiotik dapat dipetakan dengan menggunakan triadik tersebut. Hanya saja ketika memahami tanda dalam lirik lagu tersebut perlu sebuah ground yang harus dimengerti sebelumnya dengan mempelajari lebih dalam tentang seluk beluk lagu tersebut.
2.2.4 Klasifikasi Tanda-tanda Menurut Peirce
Peirce mengembangkan suatu tipologi tanda yang merupakan trikotomi.

2.2.4.1 Trikotomi Pertama
Trikotomi pertama ditinjau dari sudut pandang hubungan antara representamen dan objek. Ditunjukkan dengan pembagian tanda secara sederhana antara lain ikon, kemudian indeks dan yang paling canggih adalah symbol (Zaimar, 2008:5)
a) Ikon
Ikon merupakan hubungan yang berdasarkan pada kemiripan (Zaimar, 2008:5). Jadi, representamen memiliki kemiripan dengan objek yang diwakilinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Peirce bahwa ikon adalah kesamaan alat tanda dengan objeknya (Noth, 2006:121). Dari sistem triadik semiotik ini, Peirce membuat tiga subklasifikasi ikon, yaitu ikon tipologis, ikon diagramatik dan ikon metaforis.
(1) Ikon tipologis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan bentuk, seperti peta dan lukisan realis (Zaimar, 2008:5).
(2) Ikon diagramatik adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan tahapan, seperti diagram (Zaimar, 2008:5). Sejalan dengan Sudjiman dan Zoest (1996, 14-16) memaparkan bahwa ikon diagramatik adalah adanya gejala struktural yang ditunjukkan dengan kemiripan relasional dan berurutan.
(3) Ikon Metafora adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan meskipun hanya sebagian yang mirip, seperti bunga mawar dan gadis dianggap mempunyai (kecantikan, kesegaran). Namun, kemiripan itu tidak total sifatnya (Zaimar, 2008:5).
b) Indeks
Indeks adalah hubungan yang mempunyai jangkauan eksistensial (Zaimar, 2008:5). Eksistensial yang dimaksudkan adalah eksisnya sesuatu tentu disebabkan adanya sesuatu yang lain, dalam bahasa sederhananya adalah hubungan sebab akibat. Oleh karena itu dijelaskan oleh Zoest (1993:24) bahwa dalam hal tersebut hubungan antara tanda dengan detonatum (objek) adalah bersebelahan. Dikatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. Asap dapat dianggap sebagai tanda untuk eksisnya api dan dalam hubungan seperti ini asap adalah indeks.
Adapun indeks dapat digapai dengan melakukan analisis secara intertekstual pada karya sastra. Karena dalam analisi intertekstual terdapat hubungan sebab akibat antara sejarah dan juga realisasi karya sastra pada masanya.
c) Simbol
Simbol yang dimaksudkan Peirce adalah tanda yang hubungan antara tanda dan objek ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum (Zoest 1993:25). Peraturan yang berlaku umum di masyarakat misalnya adalah ketika seseorang bertanya kepada yang lain kemudian yang lain memberikan tanda dengan menunjukkan ibu jari orang yang ditanya kepada penanya maka dapat diartikan sebagai sebuah persetujuan.
Dalam lirik lagu Shoutul Khilafah trikotomi pertama yang dikemukakan di atas dapat menjadi bahan analisis lagu tersebut. Karena dalam lirik lagu tersebut apabila ditelaah dengan sudut pandang hubungan antara representamen dengan objek maka yang menjadi representamen adalah lirik lagu tersebut. Lirik lagu Shoutul Khilafah penyeruannya terhadap masyarakat dari berbagai komponen maka dapat digambarkan bahwa objek dari lirik lagu tersebut adalah masyarakat dan segenap aktivitas serta fenomena yang terdapat didalamnya.
Pemahaman ikon, indeks dan simbol dalam lirik lagu Shoutul Khilafah dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap pemaknaan lirik lagu tersebut. Olehkarena itu diperlukan kecermatan dalam memilah serta memahami ikon, indeks dan sehingga dapat berhasil dalam pengungkapan makna yang terkandung dalam lirik lagu tersebut
2.2.4.2 Trikotomi Kedua
Trikotomi kedua Peirce membuat klasifikasi dengan sudut pandang yakni hubungan representamen dengan tanda. Tahapan yang dikemukakan yakni (firstness, secondness, thirdness), sebagaimana dikemukakan sebagai berikut ini.

a) Qualisign
Qualisign yakni sesuatu yang mempunyai kulalitas untuk menjadi tanda. Ia tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia terbentuk sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Hal tersebut berarti sesuatu yang mungkin menjadi tanda maka bisa disebut Qualisign. Dan Peirce (dalam Zoest 1993:19) mengatakan bahwa Qualisign dapat menjadi tanda bila Qualisign memperoleh bentuk (‘embodied’). Misalkan warna merah itu memiliki kemungkinan untuk menjadi tanda sebagai cinta dan sesuatu yang bahaya, sehingga warna tersebut dapat dijadikan sebagai Qualisign. Namun warna merah tersebut baru bisa menjadi tanda manakala dia mendapatkan bentuk mawar sebagai tanda cinta dan bentuk segitiga merah sebagai tanda bahaya.
b) Sinsign
Sinsign adalah sesuatu yang sudah terbentuk dan dapat dianggap sebagai representamen, tetapi belum berfungsi sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Contohnya dapat diambilkan pada bunga mawar merah yang belum di berikan kepada istrinya merupakan sebuah Sinsign. Karena walaupun sudah menjadi representamen namun hal tersebut belum berfungsi menjadi sebuah tanda.

c) Legisign
Legisign yaitu sesuatu yang sudah menjadi representamen dan berfungsi sebagai tanda. Setiap tanda yang sudah menjadi konvensi adalah legisign (Zaimar, 2008:5). Sehingga tanda bahasa merupakan legisign, karena bahasa merupakan kode yang disepakati oleh masyarakat (konvensi)
Lirik lagu Shoutul Khilafah tentu memiliki potensi untuk dikaji dalam trikotomi kedua Peirce. Hal tersebut dikarenakan dalam Lirik lagu ini terdapat suatu representamen dan tanda yang bisa digolongkan dalam Qualisign dan Legisign, yakni ungkapan Khilafah Islamiyah. Karena hal tersebut adalah sebuah kata yang memiliki potensi sebagai tanda dan belum berfungsi sebagai tanda. Karena keberadaan Khilafah Islamiyah itu sendiri belum ada. Penjelasan lebih dalam akan dipaparkan dalam bab 4.
Bentuk Qualisign, Sinsign dan Legisign dalam lirik lagu Shoutul Khilafah memerlukan pemahaman yang lebih mendetail agar dalam mengurai dan mendeskripsikan bentuk tersebut dapat mengetahui lebih mendalam berkaitan dengan makna lirik lagu tersebut.
2.2.4.3 Trikotomi Ketiga
Berdasarkan interpretan maka Peirce menjelaskan bahwa tanda dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Berikut ini adalah tahapan yang berdasarkan hubungan antara interpretan dengan tanda.
a) Rheme adalah tanda yang tidak benar atau tidak salah, seperti hampir semua kata tunggal kecuali ya atau tidak. Rheme merupakan tanda pengganti atau sederhana. Ia merupakan tanda kemungkinan kualitatif yang menggambarkan semacam kemungkinan objek. (Noth 2006:45)
b) Discent dalam Zaimar (2008:5) dijelaskan bahwa tanda yang mempunyai eksistensi yang aktual. Sebuah proposisi, misalnya merupakan discent. Proposisi memberi informasi, tetapi tidak menjelaskan. Decisign bisa benar dan juga bisa salah, tetapi tidak memberikan alasannya kenapa hal tersebut bisa terjadi.
c) Argument adalah sebuah tanda hukum (Noth 2006:45) yakni sebuah hukum yang menyatakan bahwa perjalanan premis untuk mencapai kesimpulan cenderung menghasilkan sebuah kebenaran.
Lirik Lagu Shoutul Khilafah di dalamnya juga terkandung tanda berdasarkan interpretan. Hal tersebut dapat terjadi karena lirik lagu pada umumnya tidak bersifat menjelaskan namun hanya memampatkan suatu penjelasan dengan perkataan yang singkat. Maka akan nampak kata-kata yang membentuk tanda Discent karena tidak ada alasan lebih dalam mengapa permasalahan dalam lirik tidak dapat terjadi. Begitu juga dengan kandungan yang terdapat di dalam lirik lagu Shoutul Khilafah yang menyerukan sesuatu hukum-hukum Islam yang diartikan sebagai kebenaran, disinilah letak argumen yang nanti akan dikajih lebih mendalam.
Pengajian lebih mendalam berkaitan dengan Rheme, Discent dan Argumen digunakan juga untuk mengetahui lebih jauh tentang makna yang terkandung dalam lirik lagu Shoutul Khilafah. Proses dalam pengajian lirik melalui trikotomi ketiga ini tidak hanya pencarian bentuk dari Rheme, Discent dan Argumen melainkan memahami makna yang terdapat dalam tanda tersebut sehingga dapat pula memahami makna yang terkandung dalam lirik lagu Shoutul Khilafah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s