Nopel: Bab i-iii Haram, ikut lomba dipan cemesta.

Posted on July 20, 2011

0


Bab i haram… Taman Kebangkitan

Jalan raya Dukuh Kupang masih tetap dihinggapi kuda-kuda besi yang memancarkan cahaya putih dari sorotan mata depannya. Agil duduk menatap lekat laju warna kuda yang meluncur seolah mampu mengais memorinya 5 tahun silam. Tempat hiburan Hot yang santer di Surabaya itulah yang kini ia singgahi bersama dengan istrinya tiap malam minggu. Seolah mereka berdua tersengat listrik yang mampu menyalahkan letupan semangat dalam diri mereka berdua.
“Dek, kalau anak kita lahir nanti, kita akan ceritakan kalau tempat hiburan ini adalah tempat kebangkitan pemuda Kota Surabaya, gimana?” kata Agil dengan bangga kepada istrinya.
“He’em, iya mas, toh gak jauh beda kok sama nama aslinya dulu. Dulu Gang Dolly sekarang Gang HolyQ (quran), haha menarik kan Mas?” istrinya melempar jawaban sambil menyandarkan kepalanya dibahu Agil.
“Tumben kamu cerdas, gara-gara nikah ma aku ya sekarang jadi cerdas?”goda Agil spontan (uhuiii).
“Yeee ini mesti kePDan, dari dulu ku udah cerdas ya!! Buktinya semua lomba udah berhasil tak taklukin. Mulai lomba makan ujung pulpen, eh makan krupuk yang di ikat di ujung pulpen maksudnya, (hihi, dasar istri Agil agak gil gil gil, ah gak jdi deh), lomba musik daster (dulu kan jamannya musik rock, sekarang ganti aliran), lomba makan pizza (dikibulin penjual pizza mau ja, padahal akhirnya disuruh bayar), dan masih banyak yang lain deh mas” serunya dengan degup kagum akan critanya.
“Hah, Pengalaman kok kayak tutup panci jeleknya. Ah jadi gak kenal ah ma kamu. Kabur ah, kabuuuurrr.” Goda Agil sambil melompat dari tempat duduk dan lari menjauh dari Sherly, istrinya.
“Hayooo, mau kemana Maass. Tak lempar klompennya mbahku loh!! Ayo kembali kepelukan ketiak ku, sini sayaang.” Sherly mengayunkan kakinya ingin meraih si Agil dalam ketiaknya. (duh penulis aja kudu muntah nulisin crita ini).
Malam masih menayangkan ribuan cahaya yang bertaburan di atas awan, rembulan pun masih setia menyantunkan cahaya untuk semua produk-Nya. Orkestra insekta bumi dan langit masih nyaring dengan dengungan yang wanginya menyerbak telinga. Begitulah keseharian alam dalam menampakkan kreativitas Allah Azza Wa Jalla. Namun kondisi Gang HolyQ ini berbeda jauh dengan Gang Dolly yang dulu dalam agenda hariannya. Kini para pengunjung Gang Dolly adalah muda-mudi yang sudah menikah. Ya sebagaimana Sherly dan Gila (eh, maaf maksudnya Agil) yang menghabiskan sejenak waktu mereka untuk singgah di Gang ini mendengarkan kajian keluarga sakinah. Anak-anak pun diajak orang tua mereka untuk mendengarkan kisah-kisah orang terhebat dalam masa keemasan dunia. Seperti kisah Muhammad Al-Fatih ketika menundukkan Konstantinopel, kota adi daya kala itu. Mereka merekam bagaimana seorang Al-Fatih tak pernah meninggakan sholat rawatib dan tahajud dalam hidupnya, menggerakkan pasukan-pasukan muslimin sehingga mampu melesatkan puluhan kapal dari lautan menerobos bukit yang menjulang hanya dalam satu malam, dan penaklukan itupun begitu elok dihirup telinga. Itulah selayang pandang aktifitas Gang HolyQ saat ini, Mei 2015.
***
“Dek, sini deh. Nih liat tuh masih ada kan?” Agil menculik perhatian Sherly (asal jangan menculik Miyabi) dengan telunjuknya yang mengarah kebawah.
“Apa sih Mas? Kakinya Mas yang korengan dan kemarin kenak jepret nya tikus itu toh? Jangan bilang keluar darah lagi ya? Gak mau lagi aku ngrawat! Gak mau!” kata Sherly yang nampak jengah dengan kondisi suaminya.
‘Cetuik’ dijitaklah Sherly dengan lembut (biasanya kan ‘Cetuak’),“Hiiiihh, bukan. Makanya tah jangan negative thinking terus sama Mas, yang ikhlas dunk kalau ngrawat. Tuh liat deh ternyata masih belum ilang tulisan yang ngatain Syatir Gila (mungkin maksudnya Ganteng, Imut, Lan Asoy). ‘Mendem gadung, hidung kayak cebok kamar mandi, telinga kayak betadine, mata kayak gantungan kunci.’ Liat gak, bener kan masih ada? Harus segera dilaporin neh ke tukang pembersih” selidik Agil kala menelusuri tulisan di bawah meja yang samar-samar di sebelah kakinya.
“Iyaaaa, tadi kan bercanda Mas. Jangan dijitik lagi ya! (kalau keras jitak bukan jitik-red). Mungkin bukan salah tukang pembersihnya Mas, lah ini tempat tulisannya ada di cepitan kursi gini. Yup sepakat, laporin aja deh sekarang. Oke tak emailkan ja ke tukang pembersihnya. Eh, gimana kalo langsung ke Fb nya aja ya.” celetuk Sherly berapi-api memijat keybord netbooknya dengan ujung-ujung jarinya.
“Ah ku jadi semakin bangga dengan Syatir. Dia selalu berpesan padaku ‘Allah itu Maha Kreatif, maka jadikan Allah itu inspirasi kalian buat bikin dakwah ini sekreatif mungkin, jadikan dakwah ini menyenangkan, menantang, dan terus hidup kawan!’, kadang kata-kata itu ditentang, tapi dia selalu bisa membuktikan kalau dia bisa bertahan, bahkan kemenangan pun berpijar” mata Agil berlinang-linang mengingat kenangan yang tampil memesona di pelupuk matanya.
“Aku sih taunya cuma secuil aja kisah tentang dia. Gak sampek mendetail. Hmmm…katanya Mas dulu mau cerita ke aku gitu versi lengkapnya. Ayoo Mas critain ke aku. Ya, ya, ya!” untaian gombal Sherly mulai menggema di telinga Agil.
“Bayar dulu donk!! Ayo!! Hehe..Iya2, kamu itu lebih seneng klo dengerin kisahnya orang dari pada kisahku sendiri.”
“Halah Mas, lha kisahnya Mas gak sedap dipandang mata gitu kok. Males aku.”
“Lha salah sendiri mau sama aku. Dulu aku gak maksa Adek buat suka sama aku kan?” kata Agil.
“Kepaksa Mas ku suka sama Mas dulu. Lha Mas gak jemu-jemu ngejar aku walau udah tak tolak berkali-kali lamaran Mas. Akhirnya karena kasihan, ya udah tak trimaa ja.” Tersenyum sambil menjulurkan lidahnya pertanda meledek ke arah Agil.
“Arrrggghhhh, ini istri kok bandel banget seeehh! Ya ya tak critain detailnya.”
“Syatir. Sebuah nama yang sesuai dengan arti yang disematkannya. Seorang dengan segudang cara untuk keluar dari masalah. Namun tetap dalam koridor syara’. Ah terlalu sombong untuk diceritakan sebenarnya.
***
“Komitmen saya adalah meratakan Gang Dolly Surabaya dengan Islam!! Mereka adalah pemuda yang punya potensi untuk dinyalakan dengan ideology hingga pijarannya menerangi malam!!” kata Syatir dalam sebuah training motivasi di Surabaya. Saat itu semua temannya mengamini apa yang dia impikan.
Satu minggu kemudian dia mulai memikirkan langkah untuk mewujudkan impiannya. Mulai melihat secara pasti bagaimana kondisi lapangan disana.
“Kalau aku berjuang sendirian, jelas aku tak mampu. Satu-satunya jalan adalah menciptakan team” ungkapnya dalam hati.
Dalam beberapa kali rapat dengan kolektif kampusnya, ia menawarkan beberapa ide. Salah satunya berkaitan dengan Gang Dolly untuk disentuh dengan islam.
Tentu saja, menurut Syatir dia tidak ingin memulai aksinya di Gang Dolly dulu, melainkan di taman Bungkul. Karena menurutnya lebih baik melakukan pemanasan dulu di taman Bungkul.

Seminggu kemudian…

Dalam redupnya langit tanpa sang surya hanya ada sang luna. Segerombolan orang yang kira-kira berjumlah 30an menuju Taman Bungkul. Membawa poster bertuliskan ‘Nikah saja Mbak!’, ‘Jangan mau di ajak berduan!!’, ‘Percayalah pada saya, jangan ikuti kata-kata gombal pasangan anda!’.Bahkan ada yang agak ekstrim tulisannya; ‘Kabur saja Mbak, jangan mau dijamah ya!!!’, ‘Grepe-Grepenya setelah nikah aja mbak!’. Dengan membawa poster mereka berdiri menatap terangnya lampu taman yang menyinari para muda mudi yang duduk berpasang-pasangan.
“Kawan-kawan jangan pernah gentar untuk menyerukan ini. Allah melindungi kita. Polisi juga sudah mau menjaga aksi kita, tenang saja.” Kata Syatir lirih sebelum mulai berorasi. Memang dia sudah minta ijin pihak kepolisian untuk melakukan aksi pada Sabtu malam minggu di Taman bungkul, oleh karena itu polisi dengan senjata dan water canon pun siap berada di belakang mereka.
Orasi pun dimulai, Syatir mengawali orasinya: “Mbak2, kalian adalah mutiara, kalian adalah perhiasan dunia. Bukankah Rasul kita pernah bersabda kalau perhiasan yang paling berharga adalah wanita sholehah. Jadi kalian adalah perhiasan. Perhiasan itu mahal Mbak harganya. Susah mendapatkannya. Mbak2 disini jangan mau dibeli dengan rayuan gombal lelaki Mbak. Bohong itu, Bohong!. Perhiasan itu seharusnya disimpan Mbak, bukan malah di obral di gratiskan, dijamah layaknya gorengan!”
“Takbir!” seru salah seorang teman Syatir.
“Allahu Akbar!!” serentak bak microvon yang meledak
“Saya lanjutkan Mbak, Mbak tau, bidadari itu disimpan di langit oleh Allah dan tidak di pertontonkan saat ini, karena mereka mahal harganya. Mereka layaknya permata dan marjan. Berarti mereka itu special Mbak. Ayo Mbak kabur saja dari pacar sampean! Kabur sekarang juga! Takbir!! Allahu Akbar… Allahu Akbar..” Syatir mulai menggemakan takbir.
“Janc**k, lapo koen C*k, ojo Takbiran nang kene! Iki ngunu durung lebaran C*k! (umpatan, knapa kamu –umpatan lagi-, jangan takbiran disini ya! Ini tuh belum lebaran!)” Salah seorang laki-laki tegak menantang dengan lantang kepada Syatir dan kelompoknya
Taman bungkul mulai panas, ketenangan mereka mulai terganggu, mereka mulai risih, semuanya pasangan berdiri. Seolah mereka kompak membuat satu gerakan. Lepas sepatu, angkat tinggi tinggi dan
now loading…
please wait…
loading completed…
Press Start button (kayak PSan aja)
Throw your sandals now!!!
Hahaha sungguh mengenaskan. Sandal pun berterbangan mengarah ke kelompok Syatir. Tidak hanya satu. Tapi banyak sandal. Entah mengapa sandal mereka direlakan begitu saja untuk dilempar. Kelompok Syatir mulai awas.
“Hei jangan kurang ajar ya! Belum tau rasanya makan sedotan WC ya kalian!! Tak sedot pakek sedotan WC mulut sampean!” ungkapan sepontan kelompok Syatir. Mungkin terasa kasar, ya namannya juga manusia dalam kondisi kepepet.
Plak… Ya Allah
Plak… Aduuh…
Satu dua sandal mulai mendarat di kepala Syatir.
“Pak Polisiiiii, perang telah dimulai, kami diserang Pak. Ayo Paaak, tembakkan meriam air nya!!!, teman-teman segera mundur!!! Lakukan formasi satu nol, nol, dan nol”. Teriak Syatir.
“Baik Jendral, kami siap melaksanakan formasi langkah satu nol, nol dan nol (langkah seribu).” salah seorang anggota Syatir menanggapi.
Lemparan tidak hanya sandal. Sekarang mulai dengan batu yang mengarah ke mobil polisi. Kelompok Syatir masuk ke mobil box polisi. Kondisi yang genting membuat polisi terpaksa menembakkan meriam air.
“Ayo pak, dimandiin aja mereka. Jangan mau kalah pak!! Siram terus biar pulang dan gak jadi pacaran! Ha ha ha, hu hu hu..lanjutkan pak”. Seru kelompok Syatir.
“Lumayan juga cara kamu Jendral Syatir. Ngundang polisi buat demo. Saat kita diserang mereka, polisilah yang nglawan. Hahaha, penghematan energi nih. Lumayan liat tontonan orang mandi rame2. sukurin.” kata Adi, adek Syatir yang ikut demo.
Suasana masih gaduh, tiba-tiba ada teriakan dari salah seorang pengunjung Taman bungkul.
“Stop-stop! Kami menyerah!!!” teriak salah seorang perempuan yang di Taman Bungkul tersebut.
Namun water canon terus menampar tubuh mereka yang sudah basah kuyup. Mendengar teriakan itu Syatir pun berteriak kepada Polisi.
“Pak, tolong hentikan Pak. Mereka sudah tak berdaya.” seru Syatir. Dan polisipun menghentikan tembakannya.
Wanita tadi lalu kembali berteriak kepada Syatir, tapi kali ini dengan nada yang keras dan marah “Hey, kamu pemuda yang sok suci! Aku mau mendengarkan ceramahmu asal kamu mau ceramah di diskotik dan panti pijat plus-plus ku. Berani kamu hey pemuda sok suci!!!”
Suasana pun hening menunggu jawaban dari Syatir.
“Tempat kamu dimana?”
“Gang Dolly!” kata wanita tersebut
“Baik, besok malam jam 12 saya akan datang ke tempat yang kamu minta” jawab Syatir dengan tegas.
Syatirpun berkata dalam hati, “wah sesuai dengan target ku ini”.
“Tapi ingat Mbak, kita harus sepakat kalau nanti kita hanya adu argument, bukan adu kekerasan, sepakat Mbak?!” lanjut Syatir.
“Baik. Sepakat, tak tunggu kamu di tempatku” jawab perempuan muda itu.
Teman-teman Syatir mulai panik. “Hah, yang bener kamu Mas, mau masuk dunia hitam besok? Hati-hati mas, apa kuat nafsu kamu? Lebih baik jangan Mas, jangan!”
“tenang ada 1001 cara untuk menghadapi mereka. Aku tau dia adalah pemimpin salah satu genk di gang sana. Ini kesempatan, jadi gak boleh disia-siakan. Akan ku persiapkan benar-benar”.
Sebuah malam yang meriah, malam yang indah bagi kawan-kawan Syatir. Malam minggu yang tak seperti biasanya. Malam yang seharusnya menjadi malam yang penuh tawa para pemuda pemudi yang bercengkrama menjadi malam yang penuh kegundahan bagi mereka. Satu malam itu taman yang harusnya ramai sampai pagi dengan pesta, bercumbunya para remaja, menjadi sunyi begitu saja. Kalian menang kawan!
Bersambung…

Bab ii haram…brutal enemy
Bulan masih bermain petak umpet dengan awan, silih berganti saling menutupi. Debu jalanan yang mengendarai angin pun menyeka wajah muda mereka. Dzikir semesta menggema dalam kalbu yang rindu akan dekapanNya. Masih meresapi sejuknya perjalanan pulang dengan deru motor-motor mereka, tiba-tiba Syatir mengisyaratkan untuk berhenti. Berhenti tepat ditengah padang rerumputan sebelah danau UNESA lidah.
“ada apa mas kok tiba-tiba pengen berhenti di sini? Nanti aja mas pipisnya. Dirumah saja!” seru Adi kepada kakaknya Syatir.
“tenang, bukan pipis ini. Mempersiapkan untuk pertempuran besok. Kalian terus saja ke rumah. Nanti aku tak pulang jalan kaki saja. Lebih baik sejak sekarang saja persiapannya untuk besok, bukankah kejahatan yang dimanajemen bisa ngalahin kebaikan yang berserakan?”. Sahut Syatir dengan mantab.
“kita sama sama aja mas. Bareng-bareng kan lebih cepat selesainya, ya kan?”
“Jangan, sudah ku bilang jangan ikut. Toh ini juga urusan pribadiku sendiri. Insya Allah tidak masalah kalau kalian tinggal. Percayalah padaku, sekarang segera saja kalian pulang ke Asrama. Aku tidak lama kok”. Penjelasan Syatir untuk memantabkan Adi dan rekan-rekannya.
Perlahan Adi dan teman-teman lainnya berpamitan dan menjauh dari posisi Syatir berada. Dalam hati Syatir berujar “terima kasih kawan, kalian pasti tak tega dengan apa yang aku cari sekarang dan yang akan aku lakukan besok. Cukup aku yang berbuat demikian. Suatu saat giliran kalian dengan menggunakan cara yang lebih canggih dari cara sederhanaku ini”
Adanya secercah pijaran lampu handphone membantunya menelusuri gelapnya semak belukar. Kalbunya bertasbih seiring detakan jantungnya. Berharap ia segera menemukan benda-benda yang ia cari. Ya adanya hanya di semak belukar dan di pinggiran danau saja. Bukan di Supermarket, tokoh pojok, warung tegal, bahkan di pedangan kaki lima pun tak ada. Ya ini adalah misi rahasianya. Tak boleh ada seorang dari Kolektifnya yang tau apa rencananya. Karena mereka pasti tak tega dan membiarkan apa yang akan dilakukan Syatir. Dengan merancang rencananya malam itu, dapat memperkecil kemungkinan untuk diketahui secara detail apa yang akan dia lakukan.
***
“Adi, dek tolong bukain pintu!”. Suara Syatir membangunkan adeknya setelah menyelesaikan persiapannya hingga larut malam, 03.00 am.
“iya mas, bentar” sambil berjalan adi menyahut seruan kakaknya.
“habis sholat ya. Ya sudah lanjutkan munajat kamu, aku mau ke kamar mandi bentar. Badan ku gatal gatal habis dari sana tadi”
“loh mas, mana jaket kamu? Gak ketinggalan kan?
“enggak, tak simpen kok tenang aja” Jawab Syatir sambil mengambil handuk dan membuka pintu kamar mandinya.

Keesokan harinya…

“Inilah saatnya aku menghadapi mereka, semilyar cara sudah aku kerahkan untuk menekuk lutut mereka dihadapan ku karena kelembutan Nya, ya semilyar cara, karena aku bukan berhadapan dengan suasana Mall yang bertebaran permata-permata yang dibalut sederhana, tapi aku berhadapan dengan permata yang tanpa balutan busana” dia berujar kepada Adi sambil menuju samping rumah untuk mengambil kuda besinya.
“aku percaya kemampuanmu mas, aku tetap akan mendoakanmu. Apa perlu aku mengikutimu hingga di depan diskotik itu”
“Jangan Di, kamu tetap berjaga saja di 4 perempatan dari diskotik itu. Nanti kalau aku telepon, langsung saja ke diskotik, mungkin aku dalam bahaya. Walaupun dalam bahaya tolong kalian tidak bertindak anarkis! Paham maksudku?”
“ya paham Mas, setelah ini aku kumpulkan teman-teman untuk mengikuti saranmu”
“baik, aku brangkat dulu, ini sudah pukul 11.15. wassalam”
“alaikum salam. Allah bersamamu mas”
Langit masih menyajikan kerlap kerlip bintang yang berpijar. Embun malam menyejukkan kulit Syatir yang tak mengenakan jaket. Syatir meluncur menuju rumah temannya untuk mengambil jaket yang sengaja ia titipkan disana. Masih dengan hati berdzikir dan semilyar tawakal ia melanjutkan untuk meluncur menuju diskotik.
***
“ Syatir sudah datang, pemuda itu mau masuk diskotik, segera panggil May untuk berada di ruang yang sudah kita siapkan special untuk Syatir”
“ya, ya segera beritahu May”
Sahut menyahut antara bodyguard diskotik yang berada di depan untuk mengabarkan kedatangan Syatir. Syatir melangkah pelan, mengenakan jaket hitam, kaca mata hitam dan tas ransel biru.
“Saudara Syatir, langsung ikuti aku! Pengawal, pegang dia!” seru salah seorang yang berkaca mata hitam.
Syatir mulai melangkah memasuki pintu. Kini musik hip hop berdengung di telinganya bersaingan dengan teriakan takbir dan dzikir di hatinya. Tawa canda para wanita terdengar mengiringi lirik musik diskotik, aroma wine dan rokok menyisip dalam indra pembau Syatir. Sejenak Syatir sudah berada didepan pintu kamar May.
“Silahkan masuk, May sudah menunggumu di dalam. Bersenang-senanglah pemuda, dia wanita nomer satu di Surabaya. Jangan sia siakan. Mumpung ada potongan 100% buat mu untuk menikmatinya, kapan lagi coba?” seorang penjaga pintu berbisik kepada Syatir.
Dari aroma rokok dan wine berganti dengan parfum yang begitu lembut untuk membuat nyaman manusia. Lampu ruangan pun tak lagi segelap suasana diskotik. Kini di depan Syatir berdiri seorang perempuan dengan mengenakan kerudung modern dan pakaian seksi. Syatir seolah olah menatap sang perempuan namun sesungguhnya ia memejamkan matanya yang ada di balik kaca mata hitamnya. Sementara itu May bertutur pada Syatir.
“Selamat datang pemuda tampan. Berani juga kau menerima tawaranku. Bagaimana suasana tempatku? Sudah mulai beradaptasikah dengan nuansa seperti ini sekarang? Ternyata kau gagah dan tampan juga bila ku lihat dari dekat. Aku jadi berubah pikiran, aku ingin kau melupakan tawaranku. Sekarang aku milikmu Syatir, aku pasrahkan tubuh ini untukmu. Sudalah temanmu tak ada yang tau, aku pun juga berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini ke orang lain. Aku berhak kau miliki kapan saja kau mau. Bagaimana? Ayo ini adalah cara lembut ku Syatir. Buka kacamatamu sayang, buka sekarang juga. Lihatlah bidadari yang ada didepanmu ini.”
“baik akan ku buka kacamataku” kata Syatir sambil melepaskan kacamatanya dan melemparnya kelantai
Sementara itu May tidak ingin menyianyiakan kesempatan ketika mata Syatir terbuka. Ia mulai membuka kerudung dan membuka kancing bajunya. Saat itu juga Syatir langsung bereaksi dengan santai
“Baiklah May, ku ijin kan kau membuka baju dihadapanku dan ijinkan aku membuka kado yang ku bawakan untukmu” Syatir membuka tas dan mengeluarkan tas kresek berwarna hitam, sementara May yang sudah membuka dua kancing bajunya berhenti sejenak.
“Silahkan teruskan untuk membuka bajumu, ku bawakan kau seekor bangkai tikus yang sudah dihuni ratusan belatung di dalamnya” ujar Syatir sambil membuka bungkusan kreseknya.sontak May laksana pohon yang tersengat halilintar.
“bajingan! Bau Anj**ng! bau! Buang bangkai itu, Buang!. Teriak May.
Ruangan yang tadinya laksana taman bunga yang penuh kabut dan sinar mentari dengan aroma tulip yang semerbak tiba-tiba serasa tempat pembuangan sampah bahkan layaknya tempat penyedot wc saja. May pun tak jadi melucuti balutan kain di tubuhnya.
Tanpa diduga seorang pengawal menyahut bangkai tikus itu dari tangan Syatir dan langsung membungkusnya dengan kresek lain, lalu pengawal yang lain pun mengambil parfum ruangan lalu menyemprotkan pada ruangan dan membuka pintu kamar agar mendapatkan udara penganti.
“hah, satu langkah kau mulai curang May, kamu menggunakan pengawalmu untuk merebut paksa senjataku” jawab Syatir singkat.
“Sekarang mau apa lagi? Masih adakah bangkai tikus di tasmu? Pengawal ambil tas Syatir!” lalu pengawal pun melangkah menuju Syatir, namun Syatir menyerahkan tasnya terlebih dahulu sebelum pengawal mengambil langsung dari pundaknya.
“dua kali kamu menggunakan bodyguard mu untuk menaklukkanku”
“baik, akan aku suruh keluar para pengawal pria ku, dan aku ganti dengan pendampingku yang perempuan”
“terserah apa maumu” jawab Syatir dengan santai.
Lalu para pengawal pria pun keluar dan masuklah para gadis-gadis muda masuk ke kamar May. 20 gadis tersebut menggunakan pakaian yang sangat minim. Lalu Syatir pun benar-benar menundukkan pandangan.
“Syatir kamu berjanji untuk ceramah pada kami, dan kamu pun berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami. Wajar kalau kami melanggar janji yang sudah kita sepakati. Ya karena kami sudah biasa berbuat dusta. Tapi kamu kan orang alim, jadi tak pantas kamu untuk melanggar janjimu itu. Baiklah sekarang aku akan gunakan cara kasar tapi lembut. Kalau kamu tak mau menikmati tubuhku aku akan menikmati tubuhmu sayang. Adek-adek cantikku, pegangi dia dengan penuh kelembutan. Aku akan datang kepadamu Syatir. Ingat kamu harus menepati janjimu untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami”. Rayuan May terus digulirkan ke telinga Syatir yang sedang menunduk.
“Tak semuda yang kalian kira untuk menyentuhku, Arrrrggggghhhhh”. teriak Syatir, lalu…
Tar..
Plak..
Ctak..
Plak..
Syatir memukuli tubuhnya sendiri dengan rata, mulai dari kedua tangannya, badannya, kedua kakinya dan punggungnya. Lalu keluarlah caritan kuning putih dari jaket dan celananya hingga membasahi tubuhnya. Sontak para gadis yang ada disitu berteriak
“Bangs*t kau Syatir, bau busuk, dasar sint**g!”
“Biad*p kau pemuda busuk” umpatan para gadis dan May pun bersahutan.
Bau itu berasal dari telur busuk yang ia cari dekat danau, ia masukkan kedalam jaketnya dan saku celananya, lalu ia pukul untuk membasahi tubuhnya dengan cairan busuk. Ya lumayan jitu dan sederhana untuk sebuah perlindungan.
“Ayo maju! Kalian takut dengan telur busuk dalam diriku. Baik aku tambahi satu lagi”. Syatir lalu mengeluarkan plastic putih dan..
Pyar…
Cairan hijau itu mengalir dari rambutnya lalu menyapu wajah, leher dan dada Syatir.
“Yang kedua tadi adalah kotoran manusia yang sudah aku lembutkan”.
Bau busuk telur dan juga busuknya kotoran manusia mulai memenuhi ruangan. Semua gadis termasuk May menutup hidung mereka. Kemudian Syatir langsung melontarkan kata-katanya..
“May, bukankah kau menggebu-ngebu untuk menyetubuhiku. Kenapa tidak mendatangiku sekarang?”
“May, apa kamu hanya mau dengan yang bersih saja, namun yang busuk kau tinggalkan?”
“Apakah aku harus berwudlu untuk membasuh tanganku saat ini? Atau harus mandi junub sekalian untuk mensucikan tubuhku? Bukankah kesucian dan kebersihan tubuhku yang kau inginkan?”
“hah, ternyata standart mu begitu rendah. Orang paling cantik sesurabaya ternyata hanya menginginkan sesuatu yang dangkal saja”
“Taukah kamu, masyarakat telah menganggapmu sebagai Tai bahkan sampah yang sangat busuk, tapi aku tak menganggap kalian sedemikian kejihnya hingga aku mau mendekati kalian. Tapi ironisnya, ketika kalian mendapati aku yang busuk ternyata kalian lari, seolah-olah akulah kebusukan yang sesungguhnya”
“Kita sama-sama diciptakan dari sesuatu yang hina, sesuatu yang tak ada nilainya. Ya setetes sperma, dan dari sana aku tidak ingin kalian menjadi penentang yang nyata. Aku tidak ingin kalian buta padahal kalian melihat, aku juga tak mau kalian bisu padahal kalian berbicara, tak ingin kalian tuli padahal kalian mendengar, tak ingin kalian “mati” padahal kalian memiliki hati”.
“aku tak ingin kalian ketika melihat wanita dihargai dengan murah, hanya dengan materi tapi ternyata kalian membutakan diri, ku tak ingin ketika kalian melihat seorang yang menjaga diri dengan agamanya tetapi kalian malah memejamkan mata untuk tidak meneladani. Ku juga tak ingin kalian mendengar ayat-ayat Allah namun tetap saja merasa tuli. Menghirup ruangan yang wangi lalu mewarnainya dengan perbuatan zina seolah olah berada dalam taman bunga, padahal dalam pandangan Allah pada hal itu bagaikan busuknya kotoran manusia yang saat ini. Bahkan ada yang mengetahui hikmah seperti ini ternyata masih saja hati itu mati dan tak berdetak lagi, ya aku tak ingin bila kalian seperti ini.”
“belum terlambat, kalian masih bisa membasuh diri kalian dengan sebersih bersihnya. Layaknya aku yang juga akan membasuh kotoran ini hingga tak tercium lagi baunya. Selagi kalian masih bernafas, kesempatan kalian untuk mengambil air masih terbuka, begitu pula denganku kesempatan itu masih ada. Pilihan ada ditanganku untuk membasuh bau telur busuk dan kotoran manusia yang ada dikepalahku ini atau membiarkannya bau. Itu terserah padaku. Bukankah itu sama juga dengan kalian untuk memilih? Menjadi tetap bersih atau berbalut noda. Ya Allah saksikanlah aku sudah mengingatkan hamba-hambaMu”.
Hingar bingar bunyi musik dalam diskotik tetap berdengung, walaupun begitu suasana kamar tersebut seolah-olah sunyi senyap. Bau menyengat telur busuk dan kotoran manusia juga masih menyelimuti ruangan, tapi nuansa ruangan seolah-olah wangi kasturi yang semerbak mewangi hingga para perempuan di sana tak lagi menutup hidung mereka. Mereka menangis hingga tak dapat berbicara sepatah kata pun dan seolah tempat itu bukan diskotik lagi, melainkan taman bunga yang penuh kupu kupu indah disekitarnya.
“saya pamit dulu, waslm”. Syatir melangkah menuju pintu masuk ruang diskotik.
“tunggu, keluar saja melalui pintu ini, kau bisa leluasa keluat melalui pintu itu” suara serak May yang bertekuk lutut dengan linangan air mata.
Syatirpun melangkah meninggalkan diskotik dan mengambil sepedahnya kembali. Setelah Syatir menaiki kuda besinya tiba-tiba lampu diskotik mati, ya malampun menjadi sunyi. Ternyata May telah berani mengambil keputusan untuk mengahiri cerita kelamnya. Ya begitulah Syatir, dia mendapatkan cara untuk tidak dipenaruhi oleh rayuan May, namun berbanding terbalik untuk mempengaruhi dan mengontrol mereka. Ya mengontrol mereka dengan teknik Brutal Enemy, yakni menghancurkan musuh dengan mengorbankan atau menghancurkan diri sendiri. Syatir berfikir bila dia tidak boleh anarkis pada orang maka mengapa dalam kondisi tertentu dia tidak menjadikan dirinya sebagai korban untuk menaklukkan lawan? ya, sekali lagi Syatir menggunakan dirinya sendiri untuk dijadikan ‘tumbal’ agar lawanya sadar. Laiknya game terkenal dalam menaklukkan lawannya, teknik Brutal Enemy. Malam pun berlalu dengan dipenuhi bintang bintang yang bertasbih memuji Rabb semesta Alam.
***
Malam berikutnya Syatir yang sedang berdzikir ba’da sholat isya menerima telephon dari seorang wanita
“Syatir, cepat kesini, gawat Syatir”
“tenang, ini siapa tolong beritahu aku ada apa memangnya?”
“saya Suri teman baiknya May, tolong May Syatir. Dia tidak ada hentinya menangis di tempat terahir kali kamu beri hikmah kepada kami semua” jawab Suri dengan suara serak-serak.
“iya, saya segera kesana..”
Syatir mulai kawatir dengan apa yang terjadi pada keadaan May bila itu berlanjut. Dan apa yang harus dilakukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Bersambung…

Bab iii haram…Nyala biru Jamku.
Syartir dengan motor bututnya berjalan menuju diskotik May. Sebenarnya itu motor tidak pantas dikatain berjalan karena tidak punya kaki apalagi koreng kaki, adanya ya obat nyamuk, eh maksudnya roda tiga dikurangi satu. Namun karena motor tersebut melajunya sangat lambat maka pantatlah dikatakan motor itu berjalan, bukan berenang.
Sesampai di depan diskotik terlihat banyak sekali orang berkumpul dengan wajah syadu. Para gerombolan tersebut melihat ke arah datangnya cahaya redup motor Syatir. Kenapa redup, karena lampu motor Syatir mirip dengan lilin, laju motornya pun seperti berjalan. Karena orang-orang itu sudah mengetahui kalau itu Syatir maka berlarilah mereka ke arah motor Syatir. Sungguh membuat jengkel, larilah para kerumunan untuk menyeret Syatir dari motor bututnya. Melihat seperti itu detak jantung Syatir pun semakin kejang-kejang dan tiba-tiba motor itu mendengung di bagian mesinnya, lalu kenalpotnya mulai menyala otomatis mengeluarkan gas biru yang mendorong motor tersebut melaju dari 20km/jam menjadi 80km/jam.
“minggir baja hitam saya ngamuk” teriak Syatir.
Syatir pun sebenarnya juga heran, kenapa setiap detak jantungnya sangat kencang maka jam tangan yang diberikan kakeknya waktu kecil itupun bisa menyala merah, lalu motor yang dikendarainya seperti ada dorongan NOS dari kenalpot lalu melaju dengan kencang.
***
Sesampai di depan kamar May, Syatir merasakan kesunyian yang menguap memenuhi ruangan May. Hening dan hanya hisakan tanggis yang ada dalam ruangan. Syatir tertegun melihat May masih tersimpuh dalam posisi yang sama seperti yang ia lihat terahir kala itu. Hanya saja sekarang May terlihat begitu anggun dengan jubah panjang yang menjuntai sepanjang tubuhnya. Entah siapa yang memasannya, namun pemandangan itu membuat Syatir tidak lagi risau untuk melepaskan pandangan sewajarnya.
May melihat Syatir yang baru datang. Iya tetap melinangkan buliran-buliran air yang membasahi pipi hingga membentur lantai.
“Syatir, aku ingin kembali. Kembali seperti anak yang baru saja hadir menghirup udara di dunia ini”
“aku ingin bersih, sebersih cawan yang belum pernah ditumpahi anggur dan wine”
“May, masih ada detik untuk bersih, untuk berlari dari kegelapan menuju putihnya cahaya pertaubatan”, jawab Syatir pelan.
Dari para wanita yang disekitarnya mencoba melontarkan kata-kata untuk Syatir, “Syatir, jantung dia kambuh, segera bawa dia ke rumah sakit”
Hati Syatir berkehendak untuk membujuk May pergi ke rumah sakit namun May segera menyahut;
“Syatir berjanjilah padaku, biarkan aku bersimpuh di sini, aku merasa sebentar lagi akan dijemput utusan-Nya. Aku tidak ingin mati di jalan dengan kondisi yang tergesah-gesah, aku juga tidak mau menghadap kepada-Nya dengan keadaan tidak sadar di kerumunan para dokter dengan biusan mereka, aku ingin menghadap kepada-Nya di tempat aku mulai membangun tumpukan dosa, dan tempat dimana aku mengakhiri bagunan ini dengan mengharap Ridho-Nya”
Syatirpun luluh dan buliran-buliran jernih mulai menerjang mata, melembabkan pipi dan berguguran ke lantai. Syatir pun tidak banyak berkata, ia paham bahwa lebih baik May mengahiri hidupnya dengan kepasrahan kepada Alloh dari pada harus bertindak gegabah dengan membawanya ke ruang ICU yang justru akan membuatnya gelisa.
“Laillah ha ilallah” terucap dari kedua bibir Syatir dengan lirih
“laillah ha ilallah” May pun melantunkan dengan perasaan yang sejuk mengalir di dadanya.
“Syatir, aku ingin diskotik ini kamu jadikan titik tolak penghapus dosaku, jadikan diskotik ini tempat kolektif kampusmu dan ajak anak-anak jalanan untuk menempah diri mereka menjadi ksatria islam yang tangguh”.
“Insya Allah May, akan aku jalankan amanah mulia ini”
Ruangan tetap dislimuti isakkan para wanita diskotik, sorotan mata dan getaran gendang telinga hanya mengarah pada pemimpin mereka yang bersiap menghadap Allah SWT.
“Ya Rabb, ku pasrahkan jiwaku untuk menghadapmu, bersihkan jiwaku untuk menghadap kepada-Mu ya Rabb, dan terimalah pertaubatanku karena sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pengampun”
“….la illah ha…ilallah…”
“Inna lillahi wa inna….ilaihi raji’un…” untaian kalamullah itu terucap dari kata Syatir. Dan entah mengapa sudah tiga kali jam tangan Syatir yang diwarisi dari kakeknya itu menyala biru.
Semua pelayan menghampiri May dan memeluknya.
***
Satu bulan telah berlalu…
Syatir mulai melebarkan kolektifnya tidak hanya di kampus saja. Melainkan juga mengajak anak jalanan dan orang sekitar gang dolly. Tempat yang kini ia singgahi merupakan tempat yang cukup terkenal dan berpengaruh di daerah dukuh kupang tersebut. Kini tempat yang dulu digunakan untuk menjual manusia oleh May telah menjadi tempat yang full kegiatan agama dan kreatifitas untuk berkarya. Kegiatannya sangat padat melebihi padatnya aktivitas yang ada di islamic center. Tempat itu cukup untuk menampung sebanyak 100 orang lebih. Di dalamnya terdapat kolam renang yang bisa digunakan untuk mandi anak jalanan.
“woiii enak euuuuyyy mandi, sini-sini om syatir ikut mandi” teriak salah satu anak jalanan yang sedang mandi di kolam renang.
“gak mau ah, saya udah mandi Cup, tu anak-anak Putat ajak mandi sekalian renang sana”. Syatir membalasnya.
Suasana masih ramai karena anak Putat juga ikut masuk kolam renang. Maklum yang namanya anak punk tidak pernah mandi, semakin kumal semakin nge-punk.
“wah seger Ming airnya, gak sengaja tadi sampek airnya ketelan lewat mulut ama hidung”
“ah maklum baru belajar, tadi aku juga sempet minum sedikit sih” jawab si Parto.
“iya lumayan seger juga, agak asin sih tadi, tapi enak juga ternyata berenang itu” sahut si Toni.
“ah seger ya?? Ah kabur ah”. Tiba-tiba Cupret keluar dari kolam renang dan lari.
“eh Pret, ngapain lu kabur?” tanya si Parto
“tadi aku kencing ma be-ol di situ, sorrryyy” jawab Cupret sambil lari begitu saja dari kolam renang”
“yieeekkkk gue minum tai ama air seni”
“hoeeekk, Janc*k, c*k..”
“hoii kamfret sini loh makan neh tai-ku juga, hoek..cuh..juh..juh…”
Menyaksikan itu Syatir menarik simpul senyumnya lalu melangkah menuju ruang pengurasan kolam renang.
Bersambung…

Posted in: Novel Raind