Tak disengaja dan tak pernah terpikirkan oleh saya bagaimana perdebatan yang usang itu mengganggu pemikiran saya. Sebuah perdebatan tentang teori EVOLUSI. Sekalipun teori evolusi itu sudah runtuh namun dengan keruntuhan itu para pendukungnya berusaha bangkit untuk mencari sebuah jawaban jawaban logis dari pertanyaan yang menyudutkan mereka. Dan kembalilah mereka menyerang dan mengumumkan kebenaran teori evolusi sekalipun berkompromi sana sini dengan teori penciptaan.
Adalah sebuah hal yang wajar ketika seseorang itu meyakini sesuatu maka keyakinan itu akan menuntunnya untuk menemukan bukti yang bisa menguatkan dan membuktikan dari keyakinan tersebut. Ini pun terjadi pada kedua kelompok yang menyakini keyakinan yang berbeda, yakni pendukung teori evolusi dan pendukung teori penciptaan.
Di sini saya bukan sebagai seorang penengah dari kedua kelompok, namun sebagai seorang yang meyakini satu teori dan mengajukan bukti bukan membuat bukti. Karena membuat bukti adalah membenarkan sesuatu yang tidak benar. Tentu saya sebagai pendukung teori Penciptaan tanpa berkompromi dengan teori evolusi.
Inilah perkembangan para pendukung teori evolusi dalam istirahatnya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sudah mengalahkan mereka:
Ketika kita menyampaikan bahwa teori evolusi itu tidak logis, karena bagaiamana pula kera itu bisa menjadi manusia jika kera itu masih ada sampai sekarang. Harusnya kera itu paling tidak menjadi homo sapiens atau homo mojokertensis dll. Tapi kenapa kera itu masih ada?
Mereka pun menjawab bahwa yang sekarang ini bukanlah kera, melainkan monyet. Karena kera tidak memiliki ekor sepanjang monyet. Jadi tolong dibedakan antara kera dan monyet.
Wow jawabannya ilmia yah! Sayangnya saya masih ada kejanggalan dengan jawaban itu. Saya pikir bagaimana bisa dibedakan antara monyet dengan kera. Kalau kera jadi manusia nah kenapa monyet gak berubah-berubah dari dulu? Apakah teori darwin tidak berlaku untuk monyet. Atau sekarang berubah jadi lebih ganteng? Seharusnya monyet juga berubah menjadi apa gitu kek. Masak kecil terus! Jika memang monyet tidak juga berubah seperti juga kerah, maka ini menunjukkan darwin dkk lupa harus merekayasa cerita seperti halnya kera yang direka cerita hingga dibuat bukti palsunya untuk bisa berevolusi menjadi manusia. Jika memang demikian maka masing-masing individu itu diciptakan bukan berevolusi.
Lalu ada lagi yang mengatakan bahwa evolusi itu terjadi dalam waktu yang sangat lama seperti halnya seekor lumba-lumba yang diberikan pelajaran oleh seorang sirkus. Lumba-lumba berkali-kali diberikan instruksi untuk melakukan hal yang diinginkan manusia. Jika benar lumba-lumba itu mendapatkan makanan dan jika yang dilakukan salah maka dia tidak mendapatkan makanan. Begitulah contoh simple yang dicontohkan oleh seorang yang membela teori Evolusi.
Jika saya diberikan kesempatan untuk menjawab maka saya jawab jika monyet itu dilatih sampai bisa menjadi sirkus topeng monyet lalu menari-nari di teras rumah saya, maka apakah topeng monyet yang bisa menari itu disebut sebuah proses evolusi? Jika iya, apakah topeng monyet itu jika kelak mati dan sebelum mati dia melahirkan anak maka kelak anaknya yang hidup itu juga akan menjadi topeng monyet? Sudah dipastikan belum tentu! Apakah jika ayah saya seorang bina raga yang ototnya besar-besar juga akan melahirkan saya dengan tubuh yang seindah itu? Ah itu juga belum tentu! Artinya jika saya tidak melatih dulu maka tubuh itu tidak menjadi seperti ayah saya! Ini artinya bahwa yang terjadi bukanlah sebuah proses evolusi melainkan sebuah proses perkembangan fisik saja!
Dan bila jawaban itu didetailkan maka sesungguhnya hewan itu bisa pintar bukan karena dia memiliki akal melainkan memiliki insting saja! Ini dapat diindera ketika hewan itu diberi informasi maka hewan tidak bisa mengaitkan informasi itu dengan informasi yang lain lalu menyimpulkan. Yang dilakukan hewan adalah dengan mengindra apa yang dihadapannya secara berulang-ulang sehingga dia bisa melakukannya ketika hewan tadi melihat kejadian yang serupa. Sehingga terdapat perbedaan yang sangat mendasar direalita kehidupan ini bahwa manusia itu ketika diberi informasi dia dapat mengaitkan informasi yang berbeda-beda itu dengan akalnya lalu membuat inovasi-inovasi baru dalam kehidupannya. Sedangkan hewan realitas kehidupannya adalah sama dengan mengulang aktivitas-aktivitasnya. Maka dari sini kita bisa melihat kehidupan manusia itu bisa berkembang modern sedangkan hewan tetaplah sama tugasnya.
Jadi hewan tidak bisa menjadi manusia sedangkan manusia tentu saja bisa menjadi hewan jika dia tidak menggunakan akalnya! Akankah pendukung teori evolusi ini menanggalkan akalnya?
Jadi sebuah kesimpulan yang dangkal karena hanya kemiripan anatomi saja seorang mengklaim bahwa dia adalah keturunan dari makhluk yang mirip anatominya dengannya. Padahal satu punya akal dan satu lagi hanya insting!
Teori evolusi itu sudah gugur dengan akal, dan itu sudah cukup. Karena teori itu didasari dengan keyakinan bahwa tidak ada Tuhan karena darwin tidak melihat Tuhan waktu menciptakan dengan bilang bim salabim jadilah manusia. Maka dari keyakinan itulah darwin kemudian mencari bukti bahwa alam semesta itu tidak diciptakan. Karena darwin tidak menemukan bukti maka diapun membuat bukti untuk mendukung keyakinannya. Inilah sebuah teori orang yang keras terhadap keyakinannya namun tidak mau bercermin apakah keyakinannya itu benar atau salah hingga harus berkorban untuk membela keyakinannya.
Sedangkan saya berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada. Lebih dari itu Allah SWT itu Tuhan dan Pencipta Alam raya ini. Saya tidak membuat bukti tapi dengan keyakinan itu saya mencari bukti. Ketika berjalan mencari bukti sebagian saya temukan dan sebagian yang lain sudah disediakan oleh Allah SWT sendiri melalui makhluknya. Baik bukti secara logis maupun bukti secara sains. Secara sains sudah sangat banyak dibuktikan di dalam penemuan Harun Yahya dkk. Secara akal atau logika saya menemukan sendiri dan juga di buku syaikh Taqqiyudin an Nabani.
Seandainya alam ini berevolusi bagaimana rantai makanan itu bisa seimbang? Bagaimana bisa seimbang jika katak menjadi biawak, lalu ular makan apa? Jika pengurai berevolusi jadi tanaman maka sampah akan jadi apa dan siapa yang membusukkan? Kehidupan ini sangat seimbang. Keseimbangan itu tentu disengaja bukan secara tiba-tiba menjadi seimbang karena singgungan-singgungan alam dengan alam lainnya. Sebuah kerapian itu tidak akan perna ada jika tidak ada yang merapikan. Maka yang merapikan itulah sang Pencipta. Ya Allah betapa Eloknya CiptaanMu dengan segala keteraturannya.
The Origin of death of Darwin Theory
Posted in: pemikiran
Posted on October 22, 2011
0