Semoga Opsimu Sukses*

Siang itu saya merasa kesepian. Kamar dengan ukuran 3×3 mulai terasa pengap dan sayapun akhirnya menjadi gerah. Dalam kesendirian tadi saya mulai teringat seorang sahabat yang telah lama tak lagi bersua dengan saya. Saat itu juga saya memutuskan segera menemuinya dan berjalan menuju kediamanya. Ketika berjalan menuju rumahnya, tiba2 terlintas dalam ingatan saya bahwa betapa hebatnya dia saat itu. Ketika awal menemukan Idiologi Islam ia begitu melegit dan berapi. Dimana ada acara keislaman disitu juga dia mewarnai acara dengan pertanyaan-pertannyaan kritis. Dalam linkup kampus dan dosen ia sering disindir dengan sebutan Ustadz, walaupun demikian sapaan mereka tidak berpengaruh sedikitpun pada cristal pemikiran dalam dirinya. Namun kini ia berbalik 180 derajat dari saat itu. Kini ia mulai tersibukkan dengan tugas kuliahnya dan tidak lagi terlihat dalam arus dakwah yang ada. Padahal ia punya pengetahuan yang luas berkaitan dengan agama dan politik. Seandainya kalian mengajakknya untuk berdebat dengan problematika umat maka kamu akan menjadi pendengar yang setia dan menikmati pemaparan fakta-takta yang tak terbantahkan. Ia dulu yang teguh untuk menundukkan pandangan tapi sekarang malah pandai sekali bergaul dengan cewek2 di kampus (ikhtilat). walaupun tidak berpacaran namun kerap kali Fs nya dihiasi dengan kata2 mesrah dari para cewek. Hal semacam tadi sebenarnya sudah terjadi dari dulu, karena ia memang memiliki wajah yang lumayan tampan. Namun penyikapan atas rayuan cewek sangat berbeda sekali dengan sikapnya yang fundamental (No Compromise) saat dulu. Akhir2 ini Ia pun sering bercerita akan satu permasalahan besar dalam dirinya. Lebih tepatnya dosa besar yang sering ia jalani. Sungguh apabila sekarang saya bandingkan orang awam dengan dia yang telah mengenal Idiologi Islam dan Perpolitikan Islam, maka sahabat saya sudah sangat tertinggal jauh dengan keterpurukannya. Sahabat saya seolah tidak memancarkan Ruh islam dalam dirinya. Seandainya ia tersenyum bahagia, saya yang sudah tiga tahun setengah menjadi sahabatnya melihat dalam kebahagiaanya adalah kebahagiaan semu, yang lahir dari sebuah jalan pintas untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan itu dan bernilai sangat rendah. Dan ketidakbahagiaan itu nampak dalam wajah yang suram karena kemaksiatannya, hingga cara berjalannyapun tak ada Ghiroh yang menunjukkan kehidupan dalam dirinya. Sungguh sangat lesu dan saya sangat prihatin karena sahabat saya seolah Mayat yang hidup.
Ketika nanti bertemu saya tidak ingin membicarakan dakwah terlebih dahulu, namun bagaimana saya bisa menempati hatinya dengan tempat yang dulu ia persilahkan. Saya ingin proses percakapan saya dengan nya berjalan natural. Dalam perjalanan kerumahnya itulah saya menyusun kerangka percakapan saya, mulai dari banyak pembukaan, sedikit inti dan penutupan yang bersambung. Artinya penutupan yang nanti harus saya lakukan adalah pintu terbuka yang mengharuskan kita masih saling bertegur sapa dan terus berantusias melanjutkan topik pembicaraan yang saya skenariokan.
Sesampai di rumahnya saya mendapati dia sedang tidur pulas. Teman-teman se asramahnya menginformasikan pada saya bahwa ia sudah tertidur sejak pukul lima pagi tepat setelah ia sholat subuh. Dan yang lain juga berkata klo ia pulang ke asrama di pagi buta sebelum subuh. Saya tersenyum melihat wajah sahabat saya yang letih pucat. Wajahnya penuh minyak, tanda ia belum tidur untuk semalam suntuk. Saya memberanikan diri untuk membangunkannya dengan perlahan. Lalu ia pun sedikit demi sedikit mulai membuka mata dan melihat kearah saya.
“huaah hmmm…ada apa?Q masih pusing”
“iya tau kok.. dah sholat blum?”
“mang jam brapa sekarang?”
“jam satu seperempat loh”
“ah masih kurang 45 menit lagi kok”
“ayo bangun mas..Q Raind, adek kelas antum. Masih ingat g? Maaf klo ganggu, klo mang masih ngantuk Q tinggal pulang dlu ya mas. Hmm tapi jangan lupa buat sholat”
“Hah..Da pa Raind siang2 gini kamu kesini, kok tumben gak kasih kabar dlu klo mau kesini? Udah lama tunggu aQ, Q tak ke belakang Dlu ya?
“ia, tadi kangen aja mas, pengen kesini. Gak kok, bru aja datang.”
Tampaknya ia terkejut atas kesadarannya bahwa yang datang adalah orang yang pernah menjadi didikannya dalam halaqoh umum. Saya pun sedikit legah, karena kakak yang pernah membawakan lilin islam itu masih memiliki rasa malu, walaupun kondisinya sangat memprihatinkan. Itu berarti dia masih menyisahkan iman dalam hati kecilnya. Dan ia pun selesai mandi dan berwudlu.
“Raind kamu sendirian kan, aku tak sholat dlu ya? Mumpung masih ada waktu setengah jam.”
“Ia mas, tak tunggu..tenang saja gak usah terburu-buru”
Namun tiba-tiba setelah beberapa langkah keluar dari kamarnya. Ia mendengar Handphonenya berdering.
“ya Asslamualaikum, oh enten nopo buk?”
Saya tidak tahu menahu tentang apa yang dibicarakan. Sepertinya sebuah pembicaraan yang serius. Posisi saya saat itu tepat berada di sebelah kanannya. Lalu tiba-tiba Hp kakak tadi terlepas dari tangannya lalu terjatuh lantas diapun tercengang tegang. Nampak dari raut wajahnya sebuah kecemasan. Lamat-lamat saya melihat air mata kakak kelas saya meleleh dan dia melanjutkannya dengan tersungkur sujud.
“Ya Allah inikah karunia Mu ya Rabb. Ya Allah walaupun hambamu ini tlah berbalut dosa dan terpuruk imannya ternyata dibalik semua itu Engkau senantiasa mencintaiku, dengan menyelamatkan hidupku. Syukur Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah membangkitkan rasa rinduku lagi untuk dekat dengan Mu”
Seusai sujud masih dalam kondisi terisak tanggis, ia pun menuju musolah asrama yang berada tepat didepan kamarnya. Dalam keadaan sholat dhuhur, ia masih menangis terseduh-seduh hingga teman asrama lain memandangnya penuh tanya. Lalu mereka menghampiriku di kamar kakak tadi dan menanyakan kondisi kakak itu.
“maaf dek, kak **i kenapa? Ada masalah ya”
“Maaf juga, saya kurang paham, dia seperti itu setelah menerima telepon tadi. Wajahnya pucat namun saya heran kenapa dia malah melakukan sujud syukur”
Lalu mereka pun kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Dan di ruang mushollah masih terdengar tangisan pilu kak **i, sesekali di selingi dengan ucapan syukur.

***
“Raind maafkan aku”
Sambil memeluk erat tubuhku dan masih terdengar rintihan tangisnya. Saya masih merasa terkejut setelah ia selesai sholat dan berjalan mendekatiku lalu memeluk begitu saja padaku. Saat itu yang saya rasakan bukan sebuah tangisan kesedihan namun kebahagiaan dalam sebuah kepiluan.
“Maaf kak antum dapat rejeki apa, pasti habis ditelepon tadi ya?”
“Ya, antum benar Raind, sebuah hadiah yang lebih dari sekedar rizki dari Allah, sebuah karuniah yang akan menumbuhkan tunas kehidupan dalam imanku”
“Apa kak?”
Sambil tersenyum ia berkata, “Ayah ku di PHK dek”.
Saat itu saya ganti dibuatnya membisu. Pikiran saya serasa beku dan tak berfungsi. Sebuah bencana namun ia malah mengganggap sebuah karuniah. Setahu saya ayahnya bekerja dengan pekerjaan yang halal. Walaupun jarak antara ayahnya dan dia terpisah oleh selat. Tapi saya rasa mereka sudah terbiasa untuk berjauhan sejak dia SD.
“Aq bahagia bukan karena merasa klo ayah pantas di PHK, aQ pun sadar klo kebahagianQ ini bukan berarti tertawa diatas penderitaan keluargaQ.”
“Awal kebahagiaan itu muncul setelah aQ sejenak merenungkan musibah PHK tadi. Ibaratnya diriku seolah menjadi komputer yang menyalah lalu sekonyong-konyong saklarnya dicabut, bisa juga kayak hape yang tiba-tiba di matiin baterainya. Yap dup langsung mati. Dari sana Q seolah mendapatkan pesan bahwa hidup ini tidak untuk main2 yang selama ini Q lakukan. Sejak itu pula q berfikir untuk berhenti bermaksiat dengan menghamburkan uang atau aku besok tidak makan. aQ mulai tenang dan berusaha bersikap dewasa. Ya dari PHK itu mungkin bisa jadi untuk semester depan AQ tidak bisa ikut kuliah. Namun dari PHK tadi aQ jadi tidak sempat untuk berpikir maksiat dan bermalas-malasan, yang kupikirkan hanyalah keseriusan masa depan hidupku, keluargaku dan keeksistensian diriku dalam dakwah. Dari PHK itu pula aku seolah terbangun dari kehidupan yang penuh angan-angan panjang nan kosong menjadi tindakan kongkrit yang penuh perjuangan. Ya mungkin minggu depan sudah tidak ada lagi kiriman uang saku, mungkin pulsa minggu ini adalah pulsa terahirku, mungkin semester ini adalah semester terahir aku bersama dengan teman2 asrama maupun kampus. Namun kekidupanku saat ini bukanlah sesuatu yang terahir, melainkan sebuah Start awal kehidupanku dalam melakukan perubahan. Sekecil apapun perubahan harus kumulai dengan keseriusan dan anti kemalasan. Yang ku pikirkan hanyalah hari-hari yang penuh dengan kedekatan dengan Allah Swt agar kami sekeluarga diberi kekuatan dan Rizki untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan esok hari. aQ sangat bahagia karena aQ ingin segera meledakkan potensiku (dengan Izin Allah) untuk menyambut sabda manusia paling Bertakwa di dunia, Rasulullah Saw:
“kemenagan bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan sesungguhnya kemudahan itu bersama kesulitan”.
Juga menyambut apa yang telah difimankan Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah 5-6 : karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Ya kini aQ dalam sebuah ketidak pastian materi namun insya Allah aQ berada dalam kepastian pertolongannya…sungguh dek inilah yang saya rasakan saat ini”.
Saya pun mendengarkan ceramah kakak tadi dengan sikap diam seribu kalimat, ya hanya diam sebagaimana sikap saya dulu ketika islam dituangkan olehnya kedalam pikiranku… air mataku ikut meleleh, kemudian kami berpelukan dan hati kami berAzam untuk tetap saling menguatkan… Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar.

Nb:

* judul tadi hanyalah jebakan yang tidak memiliki kaitan dengan artikel ini. Mamun secara semiotik judul tadi memiliki makna tersendiri bagi saya terutama pesan utama dari artikel diatas. Hmm semoga bisa menangkap tanda yang terdapat dalam judul tersebut. Klo udah nemu bisa kasih komentar ke kami oke.

Nb lagi : Oh ya, sebenarnya pada kalimat terahir dari artikel tadi mau saya kutib kata-kata orang jenius yang hancur karena kejeniussannya dalam rumah sakit jiwa, yakni Nietzche yang mengatakan “Percayalah padaku; rahasia untuk memetik buah paling besar dan kenikmatan tertinggi dari manusia adalah hidup yang berbahaya (gefahrlich)”. Hai yagh..perkataan tadi bagus namun perlu ada penyusupan Aqidah islam terlebih dahulu sebelum menelan bulat-bulat perkataan orang jerman tadi.

5 thoughts on “Semoga Opsimu Sukses*

  1. Bagus tulisannya… aku suka. Itu cerita fakta dalam fiksi atau fiksi dalam fakta? bingung kan? (aku juga bingung…)
    Who is that?
    Overall bagus kok tulisanmu, coz aku kurang begitu suka gaya tulisan Raind yang ‘gaul banget getho lohch!’

    NB : Untuk ilustrasi, kayak’e harus ijin dulu ke ceritalangitbiru deh! hi..hi..hi..

  2. Hmmm, tulisan yang manis. Terima kasih telah berbagi. Saya juga ada menulis topik serupa tentang mencari kebahagiaan dan kebermaknaan dalam entri saya yang berjudul Being Superhero.

    Salam kenal, dan sampai jumpa lagi.

    Lex dePraxis

  3. menurut saya, this article is your masterpiece….

    keren banget gitu loh….dulu saya save artikelnya, terus kalo lagi ga semangat, baca artikel ini jadi semangat lagi deh ^-^……

    yoyoy,,, santi sutomo

    sampai nanti, see you tomorrow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s