Feminist or Funny Miss (Cuilan Ge-eR #2)

Seorang cewek mendekati saya dan crew Ge-eR zine yang kebetulan saat itu kita lagi finising buat persiapan naik cetak minggu ini. “Mas-mas Mau coklat g?” sambil nyembunyiin tangannya kebelakang. Saya langsung angkat mulut (mulutnya ndomble ya?) “Ogah ah, Ngak mau, paling2 mbaknya cuma ngerjain kita2, ntar kita malah jadi Ge-eR beneran”. “Huh mas nya pinter juga gak mudah kebujuk rayuan gombalku” katanya. Saya langsung balas “ya iyalah siapa, Raind Gitu loh”. “nah loh mas Raind sekarang jadi Ge-eR beneran he he he, hip hip saya berhasil horay” Ungkapnya puas. Tuh cewek baru datang dah bikin onar and bikin sebel saya. Ternyata tuh cewek ngasih saya film dengan judul Chocolate yang udah mei 2008 lalu diputer di layar lebar. Saya bilang ke dia klo tu film dah kuno dan dulu habis lihat tu film saya takjub campur ngamuk2 dalam hati saya karena muatannya mang gak beres. Eh bentar aq mau tanya dulu ke cewek yang ngasihin tu film ke aku “Mbak mang menurut mbak apa ci yang menarik dari tu film?”. Dia langsung ceriwis “wah seru mas, liat ja si Zen tu lahir dari keluarga yang kenak kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) walaupun autis tapi dia bisa lebih hebat dari cowok. And gak bisa diremehin, trus disana cewek tu digambarin hebat2, bahkan anak buah dari si Number 8 tu bencong-bencong (waria) yang perkasah loh”. Sontak saya menyahut tanggapan tadi dengan agak garang “huh sudah kuduga (pinjem gaya conan) ide kesetaraan gender film tadi dah mendarah daging ke mbak, bagi saya film tadi gak da bedanya sama film perempuan berkalung surban yang koar-koar isu feminisme yang sok ngebela kaum hawa”. “Emang kenapa mas dengan feminisme and kesetaraan gender? Bukannya tu ngebela cewek2 buat dapetin haknya yang terkadang dijarah ama kaum cowok kayak pean?” katanya menggebu ngebu. “Mbaknya ini pejuang feminis ya?” Tanya saya. “Hmmm…”jawabannya terpotong. “Sayel (plesetannya sial). Oke deh saat ini mbak bicara dengan orang yang tepat, hwe hwe” darah saya mulai memanas hingga memotong ucapannya.
Feminisme atau paham kesetaraan gender
Mbak siap ya ndengerin ceramah saya, oke sekarang konsentomat (bosen konsentrasi). Paham kesetaraan gender sering dipersepsikan dengan penuntutan terhadap berbagai `penindasan’ terhadap kaum wanita didalam kehidupan politik dan pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, maupun dalam kehidupan keluarga. Artinya cewek tu pengen gituh ikutan terjun keranah publik kayak politik, karir, ormas etc. Jadi mereka protes gituh klo Cuma kerjanya di kasur and di dapur. Tunas feminisme ini nongol ketika barat rancu dalam memaknai keadilan, rasional, dan HAM (kacian ya). Terbukti kerancuan keadilan tadi terdapat di dalam kamus The New Oxford Dictionary of English yang diskriminasikan cewek dengan ngumpat kayak gene: She’s not being very rational; Man is a rational being (intinya sikap rasional tu dinisbatin ke cowok gitu loh). Otomatis para cewek barat jingkrak-jingrak protes tu kata. Gak berhenti disana kaum feminis barat juga nyemprotin kritiknya ke Bible yang dipandang penyebab utama dalam ngrendahin wanita. seperti teks Alkitab yang mengharuskan perempuan tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34-35). Dan menyertakan perempuan dalam konsep ketuhanan (M. Keene, 2006: 146-147). Sampai-sampai orang sana nerbitin Woman’s Bible (1895) dan Buku Feminist Approaches to the Bible yang menjelaskan “In Western culture, the Bible has provided the single most important sustaining rationale for the oppression of women” (dalam budaya Barat, Alkitab telah memberikan satu alasan paling penting untuk mempertahankan penindasan perempuan, red) (h.47). Ne isu lebih kenceng lagi setelah digelarnya Konferensi PBB IV tentang perempuan di Beijing tahun 1995. Walhasil institusi Pusat Studi Wanita (PSW/PSG) sebagai penopang isu kesetaraan gender di perguruan tinggi Indonesia semakin menjamur mencapai 132 di seluruh universitas di Indonesia ditahun 2005 (www.mennegpp.go.id). Parahnya lagi feminisme yang masuk ke JIL (jaringan islam liberal) menyerang islam dan kitab sucinya Al-Quran misalnya Dr. Muhammad Syahrur dalam bukunya Nahwa Usul Jadidah lil Fiqhil Islami nafsirin klo aurot cewek tu ya relative, pokoknya aurot tu yang bikin malu aja dan itu nyesuain tempat, musim or sesuai ama jamannya (h 370-373). Prof. Dr. Amina Wadud tokoh feminis liberal yang kemarin 4/06/09 mampir ke UIN Jakarta, dia di New York MENGIMAMI shalat JUMAT di sebuah GEREJA Katedral di Sundram Tagore Gallery dan juga di Oxford Centre dengan makmum laki-laki dan perempuan bercampur-baur. Sampai akhinya mengakarlah isu feminisme ini dipemikiran orang islam yang lemah dengan ngatain kenapa azan cuman laki2 ja? Kenapa aurot cewek dibatasi lebih ketat dari cowok? Kenapa cewek gak boleh poliandri? Ada yang mengatakan klo nikah tu pemerkosaan yang legal dan cewek untuk puasin hasratnya gak harus tunduk dengan laki2 melalui nikah bahkan boleh nikah ma cewek alias lesbong (lesbian) trus ada juga yang dukung sepenuhnya cewek buat karir sebagaimana Taylor dalam Enfranchisement of Women (1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karir. Bahkan menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal terang-terangan membela karier wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya. Rek ngelak rek… ambilkan minum…neh q dihidrasi habis nrocos :p
Counter Attack
“Bagus tuh mas data2nya” kata mbak dengan senyuman yang dilempar ke saya.
Dalam hati saya heran, kenapa dia tidak merasa cemas ketika saya bisa memaparkan fakta feminisme dan kesetaraan gender? Aneh, dan sikap si mbak membuat saya ingin menyiramkan segala apa yang ada dalam pikiran saya tentang paham ini.
“Begini deh mbak”. Lalu saya mulai menjelaskan lagi, ya kurang lebih seperti ini. Untuk masalah bible yang di gugat ma kaum feminis saya gak ambil pusing cz tu mang akibat dari ulah manusianya sendiri yang coba2 ngarang kitab sucinya yang dikarang dalam semua bagiannya melalui sejarah yang panjang dengan sekitar 5000 ragam manuskrip Bibel yang tidak mudah didamaikan antara satu dan lainnya. Pantaslah klo tu kitab kenak unsur subjektif dari tiap2 pengarangnya. Tapi Al-Quran yang masih murni dan terjaga keaslian teksnya punya metode sendiri yang selama 1000 tahun lebih di gunakan para ulama dan ilmu tafsir tadi jelas gak bisa dirubah semau udelnya gtoh.
Oke secara logika bila paham feminisme ini diperjuangkan dan harus berhasil maka yang harusnya terjadi adalah semua wanita harus berkarir. Agar mereka bisa hidup mandiri. Ya bila hal tersebut nekat kalian perjuangkan maka akankah hal tersebut menjadi pemecah permasalahan keadilan antara laki-laki dan perempuan? Tak mungkin bila tugas semua wanita harus berkarir. Jika semuanya feminis berkarir lantas kenapa mereka memperkerjakan pembantu wanita di rumah mereka? Apakah pembantu rumah tangga tu karir? Kurir, iya!
Lanjut! Jika laki-laki dan perempuan harus disetarakan maka kenapa cewek disuruh bangun rumah, ngaduk semen untuk bangunan dan masang genting malah ngambek? Bukankah dengan jadi tukang bangunan dia setara dengan pria?
Si mbak kembali menampakkan keanehannya, dia malah tersenyum ngejek. Harapan saya kening dia berkerut untuk menunjukkan klo dia ingin melawan pemikiran saya. Masak sudah dipancing sedemikian banyak data dan beragam logika dia malah terlihat santai. Saya semakin jengkel. Sepertinya pemikiran saya dianggapnya remeh. Saya sebisa mungkin bersikap tenang dan melanjutkan penggalian dalam pemahaman saya.”baik, klo memang paham kesetaraan gender itu yang diinginkan. Mudah, sangat mudah. Bila memang sejak awal paham tersebut harus hidup maka hal itu gampang bagi Allah Swt. Kunfayakun, jadilah maka jadilah perempuan. Ya semua di bumi ini akan menjadi perempuan. Bukankah begitu yang diingikan. Mbak tak usah suarakan kesetaraan gender. Karena semuanya setara. Tapi apa benar semuanya akan setara? Toh dalam realitanya antar sesama perempuan saja manusia banyak yang tak bisa bersikap setara atau adil. Ketika perempuan muslim dilecehkan dengan melarang untuk memakai jilbab dikampusnya. Maka kenapa kalian para feminist dan pejuang paham kesetaraan gender membungkam mulut kalian rapat2. apakah mulut dan suara kalian hanya untuk kelompok kalian? Mana keadilan. Mbak, sekali lagi mudah bagi Allah membuat seluruh isi bumi ini dengan satu jenis makhluk saja. Namun Allah telah memberikan maksudnya pada kita. Yip, saling mengenal, saling mengenal antara wanita dan pria. Bukan malah saling menyerang, menyudutkan dan menindas satu sama lain. Memahami bahwa antara pria dan wanita adalah untuk saling melengkapi. Bukan malah memilih keegoisan tuk memilih peran sebagai superman dan superwomen namun harus meracik menjadi superteam.
“Mbak kok diem ja sih mbak? Mbak mesti tanya tentang siapa contoh kongkrit dari superteam itu..ya kan? Bener kan?” tanya saya dengan rasa semangat. Baik deh saya kasih sample yang terbaik. Tau Ibunda Siti Khadijah kan mbak. Beliau dan Rasul Saw tu serasi bangets. Coba aja liat, Ibu Khotija tu seorang saudagar yang kaya raya. Dari sana kita tahu klo Siti Khadijah tu wanita yang memiliki kedudukan yang terpandang di masyarakat. Namun beliau tetap sadar bahwa tampuk kepemimpinan sebuah rumah tangga tu di tangan suami. Sehingga beliaupun tawadu’ kepada suaminya, yakni Rasul Saw. Bahkan dengan usia beliau yang lebih tua 15 tahun dari Rasul Saw saja, Siti Khadijah tetap menghargai Rasul Saw dengan tidak mengambil atau merebut kepemimpinan suaminya sebagai kepala rumah tangga. Ya begitulah superteam yang handal. Mereka mampu menata peran dan kedudukan. Ya karena aturan yang mereka pakai adalah syariat islam.
Oke2 saya paham pemikiran mbak. Pasti mbaknya tanya klo itu kan dulu..sekarangkan tidak! Sekarang cowok tu klo di hargai malah makan hati kan? Klo cowok sekarang tu gak bisa dipegang perkataannya. Istri dah melayani baik2 tapi malah dicampakkan dan dianiaya. Seperti itu kan? Memang kok mbak, saya juga prihatin dengan para suami yang menganiaya istrinya. Melihat kenyataan itu saya jadi gak nyalahkan sepenuhnya pada para istri atau wanita yang sampai menyerukan kesetaraan gender. Karena mereka juga didorong oleh realita yang memaksa mereka untuk berontak kepada laki-laki walaupun sesungguhnya paham kesetaraan gender itu benar2 kesesatan yang nyata. Sungguh mbak masalah ini hanya muncul ketika amerika menjadi negara Adidaya yang menjadikan sekularisme sebagai landasan negara mereka. Mereka tak mampu menjelaskan bahwa kedudukan wanita dan pria dalam islam adalah sama2 sebagai hamba Allah. Hingga diantara mereka berdua standartnya adalah ketaqwaan. Ketakwaan berarti melaksanakan hukum-hukum syara’. Sedangkan hukum syara mengatur masing2 hak dan kewajiban kaum laki2 dan perempuan. Pengaturan hak dan kewajiban yang ditetapkan Allah ternyata bisa sesuai dengan proporsinya, atau adil. Adil dalam hal ini berarti tidak harus sama rata antara laki-laki dan perempuan. Namun adil dalam artian peran mereka telah ditetapkan untuk saling melengkapi. Misalnya laki2 sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan negara. Sedangkan wanita sebagai pengurus urusan rumah tangga. Jadi masing2 memiliki peran yang sesuai dengan kodrat dan fitrahnya. Bukankah adil bila orang tua tidak menyamakan uang saku antara anaknya yang sudah kuliah dan yang masih duduk di TK?
“Begitulah mbak ketika manusia dan juga aturan di negara yang tidak menerapkan syariah Nya. Manusia dalam negara tersebut tidak menjalankan hukum syara’ dengan baik sehingga tidak mampu mendudukkan hak dan kewajiban pria dan wanita. Semua disamaratakan, atau klo tidak seperti itu diunggulkan satu sama lainnya. Begitu pula negara yang tidak mengontrol rakyatnya dengan aturan islam. Maka mereka akan membiarkan pelanggaran hukum syara’ yang menyebabkan ketimpangan peran dan kedudukan pria dan wanita. Sehingga muncul paham yang ingin menyetarakan mereka berdua yakni kesetaraan gender. Alih-alih memberikan solusi, paham tersebut malah mencemari dari hubungan pria dan wanita. Hal tersebut berbeda pada masa kekhilafahan (pemerintahan islam) islam yang menerapkan hukum syara dan mengontrolnya. Sehingga peran wanita dan pria benar-benar tertata dengan hukum2 islam dan itu pun tidak menjadi masalah bagi agama lain saat itu.” Huh begitulah jawaban saya yang sekiranya menguras kringat.
“gimana mbak? Ngomong donk mbak!!!”
“Jadi begitu ya Mas? Hmmm saya sebenernya sih dah sepaham dengan kamu, tapi kamunya sih yang awal tadi motong pembicaraan saya, pakek ngumpat sayel (plesetan sial) lagi. Jadi ya tak biarin aja deh kamu nrocos..he he”
“Hah pantesan mbaknya dari tadi senyam-senyum doank..knapa gak bilang dari tadi sih mbak…hu hu hu…pokoknya saya merasa di dzolimi neh.. katanya klo orang di dzolimi tuh doanya mudah dikabulkan oleh Allah Swt..Ya Allah, berikanlah hambamu istri yang sholehah secepatnya..Amiin Amiin Ya Robball Alamin..”
“Ha ha ha…makanya mas jangan suka ke Ge-eRan gtu..meskipun jadi crewnya ge-er..”
Dan crew Ge-eR pun serentak nyukurin saya sambil memandangi kompinya masing-masing (Raind Nebula)

Dijambret dari Insist.com, majalah Hidayatullah dan sevenlevel.wordpress.com

7 thoughts on “Feminist or Funny Miss (Cuilan Ge-eR #2)

  1. oke deh mbak..ne soalnya mentahannya ja. cz mau diolah di majalah great resist edisi 2. insya Allah tak edit lagi..blognya jangan cuma cari kerja donk..bikin kerja gtuloh! wirausaha maksudku..

  2. Ya Sami’, kabulkanlah doa hambaMu diatas, jika itu memang yang terbaik untuknya menurutMu wahai Rabb Yang Maha Mendengar&Maha Mengetahui akan segala sesuatu..
    Amiin Ya Rabbal Alamiin..

  3. FEMINIST or FUNNY MISS??
    lebih klop funny miss deh..
    heran gue …sama orang2 feminis….
    saraf di otaknya banyak gangguannya kaleee….
    jadi munculin ide2 yang…gila2 dan aneh2…..

    kian hari blog dirimu…makin bagus…(jangan ngapung yua bung)
    kunjungi blog diriku jg dx…
    oy…nama fbmu ap bung???
    boleh jadi tmnmu??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s