Basic Mind for Human Rise (maaf pak dosen, ne blm selesai)

Basic Mind for Human Rise
Sejenak aku mengais memori yang mengendap dalam file di otakku. Fenomena yang beragam menghiasi sekaligus mengotori renunganku saat itu. Ya, bisa dikatakan cukup spektakuler karena beragamnya fakta di kenanganku membuatku merasa kaya. Namun keberagaman itu juga membuat resah karena kumpulan fakta tersebut ternyata noda-noda yang kurangkai dari lisan sejawatku. Baiklah akan ku runut satu persatu. Semester pertama seorang teman bertutur kepadaku tentang rahasianya. Dengan polosnya dia menceritakan malam ilegal pertamanya dengan teman wanitanya. Spontan saya tersentak mendengarnya. Akhirnya malam pertama yang ilegal itu bukanlah malam terahir mereka untuk melakukan itu, namun menjadi awal mula agenda harian mereka. Begitulah fakta menyapa saya.
Ketika waktu mengantarkanku kemasa setengah perjalanan perkuliahanku, semester empat. Aku sekali lagi dihinggapi rangkaian kisah yang disampaikan seorang teman dari fakultas lain. Dia menceritakan goresan sejarah dirinya bahwa dia pernah beraktivitas layaknya suami istri di ranjang. Sekali lagi jantung saya berhasil kongslet sejenak dengan cuplikan tuturannya. Dan peristiwa tersebut menjadi candu mereka berdua ketika keheningan menemani mereka. Masih dengan peristiwa yang sama namun berbeda pelakunya. Teman yang lain bercerita langsung ke saya kalau baru sebulan mereka merajut cinta remajanya namun hubungan badan sudah menghiasai setiap hari-harinya. Dan sebulan itu pula hubungan mereka berahir. Ya begitulah serentetan fenomena yang nampak di kawula muda.
Sebenarnya masih sangat banyak kriminal yang saya jumpai selain dari freesex. Pemerasan uang yang juga pernah saya alami di tokoh buku bekas, blauran. Perencanaan pelecehan seks yang akan dilakukan kawanan gay terhadap seseorang, bahkan pencopetan yang terkuak didepan mata kepala saya sendiri. Semua insident tadi keseluruhan dilakukan oleh pemuda kita. Dilakukan oleh sebuah harapan bangsa yang akan menjadi penerus estafet kepemimpinan bangsa selanjutnya, dialah Pemuda.
Seklumit fakta diatas menunjukkan kerapuhan prinsip pemuda dan rusaknya moral mereka. Jika mereka melandaskan perbuatanya pada kebahagiaan karena telah terpuaskannya naluri seks mereka maka argumen tersebut sama rapuhnya dengan moral mereka. Bila ditanya secara dialektika maka apakah mereka benar-benar bahagia dan terpuaskan dengan merasakan uang dan kenikmatan dibawa perut mereka? Tentu tidak ada jaminan mereka akan bahagia dengan aktivitas nafsunya. Justru kegelisahan akan senantiasa menghampiri mereka karena sifat dasar naluri adalah terus bergejolak tanpa kepuasan mutlak. Sesungguhnya dengan melakukan aktivitas tersebut maka mereka telah mengambil jalan pintas dalam meraih kebahagiaan. Alih-alih kebahagiaan yang mereka dapat justru kegelisahan yang terus merundung mereka. Tentu saja hal tersebut bisa terjadi karena aktivitas amoral mereka dalam memenuhi nafsu hanyalah pelarian dari akal yang jernih mereka. Disinilah akal sangat diperlukan dalam mengontrol naluri dan menguasainya.
Dalam akal terdapat proses berfikir. Proses berfikir yang dapat mengendalikan dan menerbangkan pandangan hingga jauh kedepan hanyalah proses berfikir yang cemerlang, bukan mendalam bahkan bukan yang dangkal. Proses berfikir cemerlang adalah proses berfikir yang tinggi. Ia mengamati fakta dengan cermat. Kemudian fakta tersebut ia kaitkan dengan pemahaman atau informasi yang pernah ia peroleh kemudian ia simpulkan menjadi kesimpulan yang benar.
Seorang bertanya kepada saya bagaimanan bedanya dengan pemikiran yang mendalam dan dangkal. Saya pun menjawab dengan tenang. Pemikiran dangkal itu misalnya seorang yang mengamati sebuah kursi. Maka ia hanya mengamatinya saja tanpa berfikir lebih dalam tentang kursi tadi, apakah kursi tadi bisa digunakan untuk berdagang atau digunakan untuk perhiasan atau yang lain. Ya ia hanya mengamati sekadarnya saja kursi tadi tanpa mengaitkan lebih jauh dengan informasi yang lain yang mampu menambah fungsi kursi tadi. Sedangkan yang berfikir mendalam ia akan mengamati kursi tersebut dengan mengaitkan informasi lain lebih jauh. Ia akan berfikir bahwa kursi tadi bisa dipakai untuk bisnis, perhiasan untuk kenyamanan dengan menambah busa dan lain-lain. Sehingga pemikiran mendalam lebih tinggi dari pada pemikiran yang dangkal. Lalu bagaimana dengan pemikiran yang mendasar yang bisa membangkitkan manusia? Ya pemikiran tadi adalah jenis pemikiran yang cemerlang. Bila seorang yang berfikir mendalam itu hanya sebatas menyimpulkan kursi sedemikian rupa. Maka orang yang berfikir cemerlang akan berfikir kursi tersebut dibuat dari apa? Kalau dari kayu maka siapakah yang membuat kayu. Hingga ia menemukan Tuhannya dalam setiap pemikirannya. Inilah pemikiran yang tinggi.

Dari Mana Dunia ini Berasal?
Pertanyaan akan berlanjut bila kita ingin tau pemikiran cemerlang yang bagaimana yang mampu membangkitkan manusia? Seorang yang cemerlang ia tidak hanya mengamati kursi yang nota bene hanyalah secuil fakta. Namun dia akan mengamati fakta secara keseluruhan. Ya dia akan mengamati dan merenungkan alam semesta, kehidupan dan manusia.
“Mari kita praktekkan kawan!” anggaplah ini ajakan saya kepada Anda.
“ya mari” anggap saja Anda menjawab demikian.
“Bukankah kau menyaksikan alam semesta ini kawan”
“ya saya dengan sadar menyaksikannya”
“lalu bagaimana alam semesta ini mampu terbentuk sebegituh indahnya?”
“saya pikir ini pasti ada yang menciptakannya. Sudah menjadi pemahaman logis bahwa setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya.”
“Kamu benar kawan! Ini berarti kau percaya dengan pencipta?”
“ya saya percaya dengan pencipta. Tapi ada pertanyaan yang membuat saya binggung tentang pencipta”
“katakan kawan! Apa yang kau binggunngkan”
“kalau semua dari pencipta lalu pencipta itu dari apa, dari siapa dan dari mana?”
“haha terlalu kritis kau menyikapi segala sesuatu, namun kekritisan itu membawa kamu pada sesuatu yang salah”
“Apanya yang salah?”
“Cara berfikirmu. Coba amati. Kau mengakui Pencipta sebagai pencipta namun dalam satu waktu kau memandang pencipta sebagai makhluk. Hal tersebut merupakan hal yang kontradiktif”
“jadi pencipta ya pencipta dan makhluk ya makhluk gitu?”
‘ya. Kalau pencipta maka Dia tidak memiliki sifat makhluk yang perlu diciptakan. Dan makhluk tidak memiliki sifat pencipta yang maha menciptakan, makhluk punya keterbatasan dan Pencipta memiliki ke tak terbatasan. Artinya Pencipta tidak diciptakan oleh siapa-siapa, sifatnya adalah wajib adanya. Bila Dia diciptakan maka dia akan sama dengan makhluk, dan pola berfikir tadi jelas salah kawan! Apakah kau paham? Apa hal lain yang bisa kau simpulkan?”
“ya paham. Hmmm… kalau seperti itu pencipta itu hanya satu. Karena tidak ada yang boleh menyamaNya?
“iya kau benar kawan, kau mulai mengarah pada pemikiran cemerlang”
Oh iya..para pembaca saya izin minum sebentar ya. Sebentar saja.
Dan saya pun ingin melanjutkan dialog dengan pemikiran anda.
“saya ingin melontarkan satu pertanyaan lagi kawan. Kalau memang Tuhan itu satu, maka siapakah Tuhan itu?
“aku sudah tau jawabannya kalau itu. Tentu Allah Swt bukan? Aku sudah mendengar kehebatan al quran tentang bagaimana keajaibannya dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja disana menginformasikan bahwa tuhan itu Allah Swt”
Begitulah kiranya pemikiran saya yang berkeliaran menghimpun dialog-dialog dalam bilik-bilik logika saya. Dan saya dapat menyimpulkan bahwa bila seorang itu sudah berfikir tentang dari mana sesuatu itu berasal maka dia akan memiliki dasar yang kuat untuk bertidak dan melangkah. Karena disana seorang berpikir cemerlang akan menemukan Tuhannya dalam setiap fakta yang ia dapat.

Untuk Apa Hidup itu?
Bila kamu ditanya untuk apa hidupmu. Untuk naik kelas ketika waktu kecil? Kalau sudah naik kelas mau apa? Untuk kuliah? Kalau sudah lulus mau apa? Mau cari kerja. Kalau sudah kaya mau apa? Nikah. Kalau sudah nikah lalu untuk apa? Punya anak. Punya cucu? Kalau sudah terpenuhi maka untuk apa? Sudah tua dengan harta kaya lalu mau apa? Apakah hidup itu hanya sekedar hidup sebagaimana kebanyakan orang? Lalu bagaimanakah kehidupan yang ideal yang harus dijalani agar dalam hati terdapat ketenangan yang memang membahagiakan. Bukankah sekarang banyak orang beruang telah mengalami keheningan makna hidup?
Oleh karena itu seorang manusia wajib mengetahui tujuan untuk apa dia hidup. Ya mungkin anda akan sangat paham bahwa dalam alquran dijelaskan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah. Namun sampai sekarang kita jarang mengaplikasihkannya. Apabila seorang itu tahu tujuan hidupnya adalah untuk beribadah maka dia akan bangkit dan akan mengejar tujuan hidup tersebut kapanpun dimana pun dan dengan apapun. Semangatnya bukanlah semangat material namun semangat spiritual untuk mewujudkan ibadah tadi.
Setiap aktivitasnya akan dia arahkan untuk ibadah. Ayunan langkahnya menuju kampus dalam memetik ilmu adalah ibadah bila ia ikhlas dan sesuai dengan aturan sang Maha Kuasa. Goresan tintanya dalam lembaran kertasnya untuk menyerukan Dien Nya adalah ibadah. Ya segalanya adalah ibada ketika keikhlasan dalam dada ini berpijar dan apa yang kita perbuat sesuai dengan kaidah-kaidah manusia paling mulia. Rasul Saw. Bersambung!

2 thoughts on “Basic Mind for Human Rise (maaf pak dosen, ne blm selesai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s