Pendidikan Indonesia, sekarang tidak jongkok, Melainkan TENGKURAP and NGESOT!!!

Pendidikan di Indonesia saat ini tidak hanya bisa dikatakan jongkok melainkan tengkurap alias sudah sangat parah. Berdasarkan hasil penelitian The Political and Economic Risk Consultacy (PERC) medio September 2001 dinyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia berada diurutan 12 dari 12 negara Asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam. Sementara itu berdasarkan hasil penilaian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 174 negara atau sangat jauh dibandingkan dnegan Singapura yang berada pada urutan ke-24, Malaysia pada urutan ke-61, Thailand urutan ke-76, dan Filipina urutan ke-77 (Satunet.com). hasil penelitian yang lainnya pun juga menggambarkan betapa Negara Indonesia ini tertinggal jauh dengan negara lain dalam bidang pendidikan. Belum tuntas dengan ketertinggalan kita diantara Negara lain, pendidikan Indonesia juga dinodai dengan tinta pekat oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Tahun 2007 kita dikagetkan dengan meninggalnya Cliff Muntu, Praja tingkat II IPDN dalam aksi premanisme dan kekerasan yang dilakukan oleh senior-seniornya. Sesungguhnya premanisme pendidikan sudah menjadi tontonan umum di masyarakat kita, satu contoh lagi pada jawapos 20/12/08 diberitakan seorang guru SMP lamongan yang menyuruh muridnya untuk melayani nafsu bejadnya di tenda. Krisis kejujuran pun juga dialami oleh pendidikan kita. Data menunjukkan bahwa 18 pengawas, 17 guru, dan seorang kepala sekolah yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru (KAMG) diminta untuk mengundurkan diri karena telah membongkar kebocoran UN 2007 (wibowo, 41:2008). Sungguh julukan apa lagi yang harus kita katakan pada pendidikan ini bila kejujuran dihadiahi dengan kedzaliman sepihak bukan ucapan terimakasih.
Tidak berheti disitu, pendidikan yang kita saksikan saat ini juga melahirkan ratusan pengangguran terdidik pertahunnya. Menurut badan statistic tenaga kerja, pengangguran sarjana lulusan universitas sekitar 385 jiwa-pemuda (184.497); pemudi (200.921), bila ditotalkan sekitar 708.254 jiwa. Itu semua tentunya bukan prestasi yang pantas kita banggakan. Mahalnya pendidikan juga kita rasakan saat ini. Berapa juta orang yang tak mampu untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena tidak memiliki dana yang memadai. Kesenjangan pendidikan yang semakin parah ini sampai membuat orang mengatakan bahwa rakyat miskin dilarang sekolah. Padahal semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukankah majunya pendidikan juga akan menjadikan bangsa ini terpandang?. Silang sengkarut dunia pendidikan kita diatas masih belum mencapai klimaksnya. Banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan, tidak mempersoalkan hal yang lebih mendasar. Yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial. Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal tersebut dapat kita lihat dalam realita disekitar kita. Pendidikan yang ada dalam Negara kita ini semakin tinggi semakin sedikit pula porsi pendidikan agamanya (sekuler). Padahal hal tersebut sangat penting, betapa tidak ketika seseorang itu pandai dan memiliki kedudukan namun dalam dirinya tidak terdapat aqidah yang kuat maka jabatannya itupun akan digunakan untuk korupsi, mencabuli muridnya, menganiaya juniornya dan bahkan menindas para orang-orang yang jujur seperti yang tergabung dalam KAMG. Dampak dari pendidikan yang sekuler juga bisa kita lihat pada maraknya budaya bebas pada remaja kita, mulai dari pacaran, freesex, aborsi dan juga tawuran. Pantas saja di Negara ini gagal dalam melahirkan orang-orang yang sholeh dan intelektual. Selain sekuler sisterm pendidikan saat ini juga materialistik. Hal ini juga dapat kita lihat betapa seorang mahasiswa kebanyakan kuliah hanya untuk mencari pekerjaan. Padahal motivasi yang dibangun atas dasar materi adalah motivasi terendah setelah emosi dan spiritual. Mereka besar kemungkinan akan terjangkit krisis kepribadian, ya inilah awal kehancuran bangsa.
Melihat peliknya masalah yang dihadapi sistem pendidikan yang saat ini, maka kami dari Hizbut Tahrir Indonesia memberikan solusi alternatif dengan islam. Solusi ini pun juga sudah teruji selama 13 abad lamanya dan pernah dicontohkan Rasulullah Saw. Inilah sistem pendidikan islam, dimana tujuan sistem pendidikan ini adalah membentuk manusia yang (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang memadai. Sehingga tidak heran jika pada zaman kekhilafahan islam dahulu banyak sekali ilmuan yang juga sekaligus sebagai ulama yang menggali hukum islam untuk dijadikan solusi kehidupan. Sebut saja Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusydi, dan masih banyak lagi merupakan ilmuwan-ilmuwan Islam yang karya-karyanya tercatat terus dipakai bahkan hingga saat ini. Tidak hanya itu, dalam sistem islam juga menjamin pendidikan gratis karena pendidikan dalam pandangan islam adalah hak setiap warga, sehingga tidak memandang batasan kaya dan miskin. Negara juga memfasilitasi jalannya pendidikan dengan biaya dari baitul Maal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan pemandian tersedia lengkap di sana. Begitu pula dengan Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah. Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu, memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan (kira-kira 7,7 juta). Tentu saja tidak akan pernah cukup kertas ini untuk menulis bagaimana keagungan sistem islam baik secara material maupun spiritual.
Menuju kegemilangan islam tidak hanya cukup sistem pendidikan islam, namun membutuhkan juga sistem perpolitikan islam, perekonomian islam, dan sistem pertahanan islam. Semua itu bisa terwujud tidak dari sistem kapitalis demokrasi saat ini melainkan sistem pemerintahan islam dalam bingkai Khilafah islamiyah. Khilafalah yang mampu mewujudkan kesejahteraan umat. Bukankah kejayaan diatas terlahir dari sistem islam bukan dari sistem kapitalis seperti saat ini?. Oleh karena itu mari kita jemput dan kita perjuangkan Khilafah yang juga merupakan janji Allah Swt. (7L) -dimuat di nasroh HTI CHAPTER UNESA LIDAH, cuma judulnya aja dah diganti lebih garang-

jasa translate online

17 thoughts on “Pendidikan Indonesia, sekarang tidak jongkok, Melainkan TENGKURAP and NGESOT!!!

  1. Sepakat !
    pendidikan Indonesia sudah sangat dalam terjun dalam perangkap pragmatisme.Belajar untuk mengejar nilai, gelar, ijazah dan status. Sekolah tinggi2 biar dapet kerja yang bagus?hoho..rupanya pendidikan yang ada bukan membentuk manusia seutuhnya, melainkan tak ubahnya sebagai “pabrik robot”. Di “pabrik”nya, sejak seorang anak masuk sekolah hingga universitas pada saat mahasiswa, hanya semata-mata diprogram, diisi hafalan ilmu pengetahuan, rumus dan teori. Setelah selesai, tanpa operator, tanpa kendali dari luar, si robot hanya bisa diam tidak bergerak. Menghasilkan manusia2 dg ketergantungan dan ketidakmandirian yg luar biasa.

  2. sejak kapan pendidikan islam bisa meraih kejayaan seperti yang anda tulis? jangan taqiya dong,memang jago ngibul
    kalau memang islam pintarnya minta ampun kenapa kalah sama israel dalam bidang ilmu pengetahuan?
    contohnya saja di nobel prize orang israel yang sistemnya kapitalis bisa lebih pintar dan lebih banyak memenangkan penghargaan daripada muslim
    tulisan anda juga sumbernya nda jelas kaya gitu
    nih buktinya bahwa pendidikan orang barat itu berhasil
    http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Judaism/nobels.html
    http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Jewish_Nobel_laureates
    kunjungi juga
    http://(admin sensored, ini blog bejad yang melecehkan islam)
    nih ada juga contoh hasil pendidikan muslim di malaysia anda lihat komen komen orang yang katanya paling pintar se asia dan hasil pendidikan muslim
    http://(ini juga blog bejad penghina islam)

  3. kebangkitan orang kafir saat ini adalah semu. mereka memang menang nobel. tapi nobel tidak sepenuhnya menjadi tolok ukur dalam keberhasilan. menang nobel tapi tingkah lakunya seperti hewan ya sama saja. seks dimana mana, dengan siapa saja. membantai saudara kami dipalestina dengan biadabnya. apakah itu pendidikan yang berhasil? saya sama sekali tidak silau dengan keberhasilan barat sekarang. karena kami tau keberhasilan itu hanyalah baju yang luarnya bagus tapi keropos didalamnya. rapuh, sangat rapuh. dan kamilah rayap yang akan menggrogoti sistem kapitalis ini dari dalam. dan ketika sistem kalian roboh kami akan tegak dengan sistem ilahiya, khilafah islamiyah. itu pasti!

  4. sulit…sungguhhhh sangat sulit…seperti menata bangunan piramida, maka pondasi piramida itu harus lah kuat, tetapi semakin ke atas, kalo ga lebih kuat, maka semakin tinggi, semakin byk terpaan angin, gelombang dan sebagainya…semoga pendidikan kita cepat berbenah, jangan didiamkan, karna ini adalah masalah MORAL dan Generasi yg akan datang…good luck bagi pemerhati pendidikan….salam.

  5. walau begitu harus slalu semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. Jgn pernah putus asa dalam mengahadapi rintangan,,
    Secerat apa pun rintangan harus kita hadapi, dan jangan lupa berdoa..
    SEMANGAT!!!!!
    HIDUP INDONESIA,,…

  7. @Bp. Dani: Pendidikan pada masa kekhalifahan sangat gemilang, sy rasa suatu hari anda akan merasakan perbandingan betapa merosotnya antara pendidikan pada jaman tsb dibanding sekarang. Ada 3 jenis pemikiran, 1. dangkal, 2. mendalam (aminah), 3. cemerlang (mustanir). Kita coba dengan sebuah ilustrasi, bila ada seseorang di hadapkan padanya sebuah air putih, akan ada 3 pemikiran. 1. “Oh air ini untuk menghilangkan haus” (dangkal), 2. “Air ini berasal dari laut yang menguap, kemudian menguap ke langit sehingga membentuk awan, kemudian ketika puncaknya terjadilah hujan” (mendalam), 3. “Air ini berasal dari laut yang menguap, kemudian menguap ke langit sehingga membentuk awan, kemudian ketika puncaknya terjadilah hujan, pastilah ada yang menciptakan siklus tsb dibalik semua ini, pasti ada penciptanya” (cemerlang). “Al-fikru mustanir (pemikiran cemerlang) ini pun dahulunya lahir dari sistem Islam. Mungkin kegemilangan yg anda maksud adalah yang mendalam, tetapi tidak beraqidah atau memiliki keyakinan yang kuat. Mereka tidak hanya kapitalis, namun juga sekular (memisahkan agama dari kehidupan). Baca untuk referensi :
    http://hizbut-tahrir.or.id/2010/05/02/membincangkan-kembali-sitem-pendidikan-islam/

    (terapkan syariah, tegakkan khilafah…, sistem islam tidak hanya berorientasi pada muslim saja, bahkan non-muslim pada masa tsb rindu untuk menaungi negara daullah khilafah.., maaf waktu sy singkat jadi tidak bisa bicara banyak..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s