The Championship (Sayembara)

Sudah menjadi fitrahnya manusia memiliki keinginan untuk menjadi yang pertama, tentu saja dalam kebenaran dan kebaikan. Dibutuhkan perjuangan untuk mewujudkan hal tersebut. Dan ketika kita telah melakukan perjuangan maka kita akan melihat seberapa hebat potensi diri kita untuk bertahan dan berhasil dalam perjuangan tadi. Setiap manusia sudah Allah bekali dengan potensi hidupnya. Secara klasifikasi potensi hidup manusia Allah memberikan dengan adil kepada kita.
Ada naluri dalam diri kita, naluri mencintai, mempertahankan diri dan mengkultuskan sesuatu. Ada keperluan jasmani dan yang tidak ketinggalan yakni akal manusia. Semua potensi itu dimiliki manusia, dari dulu kala hingga kiamat tiba. Walaupun semua manusia memilikinya namun kualitas dan bobotnya tidak sama, bergantung masing-masing manusia tersebut. Kualitas potensi tadi bergantung bagaimana kualitas manusia dalam mengatur nalurinya, menggunakan akalnya dan memenuhi kebutuhan jasmaninya.
Mari kita takar potensi kita, seberapa hebat dan berat bobot kualitas potensi kita. Caranya cukup sederhana. Lihatlah orang yang sepantaran dengan kita baik usia, tingkat pendidikan dll. Lalu bersainglah untuk mencapai prestasi baik dalam dakwah akademik dsb. Dari sana siapakah yang lebih berprestasi? Bila jawabannya yakni antum maka potensi antum lebih berkualitas. Jadi siapa diantara kita yang sepantara yang paling banyak merekrut kader, membuka lahan kosong dakwah, tidak tertinggal akademiknya, istiqomah amalan pengokoh nafsiahnya, kreatif cara dakwahnya, kuat pemikiran tsaqofahnya, jernih imannya, kedekatannya dengan Rabbnya, yang lebih sayang pada saudara muslimnya dsb. maka yang lebih unggul dalam perlombaan tadi menunjukkan keunggulan kualitas dia akan pengaturan potensi hidupnya.
Bukankah perlombaan semacam tadi pernah dicontohkan oleh para sahabat? Ya, suatu ketika Rasul Saw menyuruh para sahabat untuk berinfak dijalan Allah. Saat itu umar berkata sendiri “ saat ini aku memiliki harta. Jika suatu saat aku dapat melebihi abu baker, maka inilah saatnya.” Lalu Umar pun pulang ke rumah dengan gembira. Lalu dia membagi dua seluruh harta yang ada di rumah. Setengahnya untuk keluarga, dan setengahnya lagi untuk diserahkan kepada Rasul saw.
Rasul saw. Bertanya, “wahai umar, adakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” jawab Umar, “ada, ya Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “apa yang kamu tinggalkan?” jawab Umar, “saya tinggalkan untuk mereka setengah dari harta saya”
Kemudia datanglah Abu bakar r.a dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah saw. Bertanya kepadanya,”wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?”Abu bakar menjawab,” saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya, juga dengan ridha keduanya). Melihat hal itu, Umar r.a berkata,”saya tidak akan pernah mengalahkan Abu Bakar.”
Sangat mengagumkan bukan? Abu Bakar mampu menggunakan potensinya dengan baik. Beliau mampu menekan potensi yang lainnya dan meninggikan satu potensi untuk mengagungkan Allah Swt dengan seluruh Harta yang diinfaqkannya. Tidakkah kita ingin seperti Abu Bakar yang tak terkalahkan dalam kebaikan dan amal sholehnya? Tentu kita akan berusaha dan terus berlomba untuk menggapai ridho Allah SWT.
Cara lain dalam menakar kualitas potensi kita adalah dengan membenturkan diri kita dengan sebuah tantangan Amal Sholeh yang besar. Seberapa tahan kita menghadapi cobaannya untuk mewujudkannya? Seberapa mampu kita menyelesaikan Amal besar yang telah kita targetkan. Keberhasilan antum dalam menyelesaikan tantangan besar tadi adalah takaran seberapa berkualitas potensi hidup yang antum punyai. Sebuah contoh menarik yang dimiliki oleh generasi awal islam dalam menetapkan target yang besar.
Ketika itu perang badar akan dikumandangkan, Abdurrahman bin Aur r.a melihat liah pasukan perang. Dalam pengamatannya beliau melihat dua anak kecil yang berdiri disebelah kanan dan sebelah kiri barisan. Saat itu Abdurrahman bia Auf r.a berpikir,’seandainya yang ada di sisiku itu adalah orang dewasa tentu lebih baik, karena dapat membantuku jika diperlukan.” Ketika pikiran itu terlintas dalam Abdurrahman bin Auf r.a, salah seorang anak memegang tangannya dan bertanya,”paman, kenalkah paman dengan Abu Jahal?” jawabnya,” ya, aku mengenalnya, mau apa kalian dengannya?” anak kecil itu berkata ,” aku mendengar ia selau mencaci Rasulullah, Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya tentu aku tidak akan membiarkannya. Ia yang mati atau aku yang mati.” Maka Abdurrahman sangat kaget akan jawaban tersebut. Kebetulan ketika itu A. bin Auf melihat abu jahal sedang berkeliling. Lalu berkatalah ia,”Lihat, orang yang kalian tanyakan sedang berjalan.” Mendengar ucapan Abdurrahman bin Auf kedua anak itu langsung berlari mendekati abu jahal yang sedang berkuda. Karena sulit menyerang Abu jahal secara langsung, maka salah seorang anak itu menyerangkaki kuda yang ditunggangi Abu Jahal,dan anak lainnya menyerang kaki abu jahal. Dengan serangan itu , kuda pun terjatuh dan abu jahal juga terjatuh tidak dapat berdiri lagi dan para sahabat yang dewasa seperti Muawwidz dan Mu’az bin Amr langsung melukai abu jahal dan memenggal kepalanya hingga terbunuh.
Begitulah sebuah kisah sahabat kecil yang seharusnya memiliki target untuk membeli mainan atau makanan kesukaannya ternyata memiliki target dan keinginan yang sangat luar biasa. Keinginan yang melampaui batas dari orang dewasa. Dan mereka pun mampu menunaikannya. Biarpun secara kuantitas tenaga dan pemikiran mereka lebih lemah dari pada orang dewasa tetapi Bobot kualitasnya potensi mereka sangat luar biasa dari pada orang dewasa. Keinginan yang tinggi dan muliah itulah yang telah menguji lulusnya kualitas mereka dengan sangat istimewa.
Maka tidakkah kita iri dengan target yang demikian tinggi dan mulia seperti para sahabat kecil di perang badar tersebut? Saatnya kita melibatkan diri kita pada target-target besar yang mulia, saatnya kita bersaing dengan orang-orang yang kita anggap potensinya lebih besar dan lebih dasyat dari pada kita. Beranilah pada resiko dalam dakwah, karena ketakutan kita hanya pada Allah saja. Dan mari kita sering berkumpul dengan sahabat yang memiliki potensi lebih tinggi lalu menjadikan mereka sebagai guru kita agar level potensi kita bisa sama dan lebih tinggi dari mereka. Inilah sebuah sayembara untuk saling berlomba dalam kebaikan dan Amal Sholeh untuk menggapai prestasi tertinggi, Ridho Allah swt. Wallahua’lam bishawwab.
Rain’d Nebula di sevenlevel.wordpress.com
dimuat di
http://dakwahkampus.com/artikel/kepribadian/980-the-championship-sayembara.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s