Catatan akhir bulan

Entah mengapa saya harus menulis, merobek waktu saya yang lain hingga waktu itu luang dan bisa saya gunakan untuk menulis. Satu bulan yang lalu, saya habis atraksi dengan motor dan istri saya. Malam habis pulang dari tempat kerja, saya melewati jalan yang biasa saya lewati, tentu saya paham kondisi jalan itu, termasuk lubang yang ada di jalan itu mana saja. Meskipun demikian, musibah itu pun menghampiri juga, tiba-tiba sebuah lubang besar melintang di tengah jalan dan tentu saja lubang itu belum ada di hari-hari sebelumnya. Kontan saya yang melintas di jalan itu pun tak mampu menghindar, dengan kecepatan 60-65 saya masuk ke lubang tadi dan motor saya pun oleng ke kanan, lalu saya dan istri saya pun terpental. Baru pertama kali ini saya berputar-putar di udara, lalu jatuh dan berguling-guling lagi di tanah. Waktu berguling-guling di tanah, saya melihat sorot lampu dibelakang saya begitu banyak, pikir saya saat itu adalah waktu kematian saya, karena bisa jadi saya disantap oleh truk atau motor yang ada di belakang. Alhamdulillah ternyata mereka semua berhenti dan banyak yang menolong saya. Waktu saya bangun saya langsung lari kebelakang mencari istri saya. Ternyata dia juga habis berguling-guling di aspal, saya lihat dia sobek dalam di telapak tangannya.
Benar-benar sebuah anugrah yang berupa musibah bagi saya. Mungkin manusia seperti saya juga butuh kondisi terdesak atau terluka. Ya tidak masalah sakit sebentar jika dengan sakit itu kita bisa merasakan nikmatnya kulit yang tertutup tanpa luka, nikmatnya sujud tanpa ada darah yang mengalir dalam lutut kita, nikmatnya mandi tanpa harus menutupi bagian tubuh yang terluka, semua itu akan terasa nikmat jika kita benar-benar kehilangan sejenak nikmat-nikmat itu karena luka.
Saya merasakan betapa Allah mulai mendidik saya untuk tidak cenggeng, dan lemah. Sebelum ini saya juga dihadapkan pada situasi yang juga genting. Bagaimana tidak, saya harus merevisi total skripsi saya yang judulnya “analisis semiotik dalam lirik lagu shoutul khilafah” dengan batas waktu satu bulan. Ya saya ulangi satu bulan untuk membuat ulang skripsi. Beruntung saya bisa mempertahankan judul, hanya format isi yang tadinya sudah saya selesaikan 150 halaman kini tinggal 90 halaman saja karena ada perubahan. Ya benar-benar kenangan yang indah ketika menulis islam dan dibenturkan dengan dosen-dosen yang sekiranya dalam daftar saya adalah warna merah (warning!). sungguh skripsi itu jika Allah tidak membantu untuk merampungkannya tentu saya tidak akan menjadi sarjana sastra untuk saat ini. Bisa dibayangkan, betapa nikmatnya mondar-mandir mengejar tanda tangan dan stempel dengan waktu yang sangat singkat. Setelah itu juga menjilid skripsi dengan satu hari jadi yang cukup menguras uang tabungan saya. Saya seolah mimpi ketika menyelesaikan semua itu dan sebelum luluspun diterima kerja, sungguh Allah Maha Penyayang pada hamba-hambanya yang lemah ini.
Saya bersyukur dengan semua itu justru saya tidak menjadi lelah, saya semakin ingin mendekati Nya, semua musibah, rintangan, sanksi dan rasa pahit yang menimpa saya justru menjadikan saya semakin mendekatiNya. Disaat saya menghadapi suasana baru yang terasa asing, disaat itu justru bagi saya Allah adalah peredam keterasingan saya. Disaat takut dengan tekanan disekitar saya, disaat itulah saya mulai belajar bahwa ketakutan itu hanya layak saya persembahkan pemilik jiwa saya, Allah SWT.
Wah saya sudah terlalu banyak cerita tentang diri saya. Dalam memperjuangkan sistem islam memang butuh terhadap hikmah dalam kehidupan. Belajar mengolah nafsiyah hingga dalam setiap aktifitas kita terdapat Ruh yang menghubungkan kita dengan penggengam jiwa kita. Melihat begitu seriusnya orang-orang kafir untuk berencana melenyapkan islam membuat kita bergerak. Mereka kerahkan cara dari yang sembunyi2 hingga cara yang terang-terangan menindas kita. Mereka gunakan cara dari yang paling sederhana hingga cara yang paling rumit sekalipun untuk menghancurkan kita umat islam. Dan pembantaian serta perlawanan yang mereka lakukan kepada islam adalah tanpa kenal lelah hingga mereka merasa puas ketika umat islam menjerit kesakitan dan sekarat setiap harinya.
Untuk menghadapi semua itu tentu kita juga harus mengimbanginya. Ya walaupun saya juga tau jikalau kemenangan itu pasti kelak diberikan kepada kita. Islam jaya bukanlah hasil dari penantian, namun membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk semakin dekat dengan Allah Swt dengan tidak meremehkan amalan sekecil apapun. Mulai dari puasa, sholat sunnah, dzikir dan senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah bagaimanapun halangannya. Oke mari kita menjadi agen-agen yang tangguh karena dibelakang kita ada Allah SWT.
Bersambung…karena mata saya mulai mengantuk…

One thought on “Catatan akhir bulan

  1. ente patut bersyukur masih bisa menulis setelah mengalami penyiksaan atas nama skripsi. saya saja harus merangkak kembali setelah menyelesaikan skripsi yg memberikan luka tebasan tepat di dada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s