Karbala dan Neo Karbala

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Ada kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada kekhalifahan berdasarkan tuntunan Nabi, maka dengan kehendak Allah, ia pun akan tetap ada, lalu Dia mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa yang zalim, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa diktator, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada khilafah berdasarkan tuntunan Nabi. Lalu, beliau pun diam.” (Musnad Imam Ahmad (v/273))

Yang ingin saya sampaikan disini adalah bukan masa kenabian dan masa Al Khilafah ar-Rasyidah melainkan khilafah setelahnya. Tepatnya pada masa kekhilafahan bani umayah. Disebutkan hadist di atas bahwa setelah masa khilafah ar-Rasyidah terdapat penguasa-penguasa yang zalim (namun sistem pemerintahannya tetap Khilafah), ini dapat di pahami bahwa masa itu di mulai pada masa kekhilafahan bani umayah. Akan tetapi tidak semua khalifah di masa kekhalifahan bani umayah adalah penguasa yang zalim, seperti khalifah umar bin abdul aziz adalah khalifah yang luar biasa patuh pada Allah hingga dijuluki khalifah ke lima.
Pada masa Umayah terjadi pembengkokan metode kekhilafahan yang mengarah pada bentuk kerajaan. Khalifah Muawiyah bin abu sufyan (khalifah pertama masa bani umayah) mengangkat Yazid, anaknya sebagai putra mahkota dan khalifah sepeninggalnya nanti. Dengan demikian dialah orang pertama yang melakukan pembengkokan metode Rasul SAW dengan mewasiatkan anaknya sebagai khalifah sedangkan ia masih hidup.
Yang perlu saya garis bawahi disini bahwa meskipun terjadi pembaiatan yang mengarah pada bentuk kerajaan bukan berarti saat itu sistem khilafah berganti menjadi sitem monarki, akan tetapi sistem tersebut tetap sistem khilafah hanya saja ada kecacatan. Karena proses bai’at itu sendiri tetap ada dan berlangsung. Bai’at ini biasanya diberikan oleh kalangan berpengaruh atau perwakilan rakyat (Ahlul Halli wal ‘Aqdi), atau sebagaimana kita saksikan pada masa selanjutnya, dilakukan oleh Syaikhul Islam.
***
Saat itu Muawiyah menulis surat kepada marwan, gubenur madina, untuk meminta baiat penduduk madina. Marwan kemudian berpidato di depan rakyat madina dengan berkata, “sesungguhnya, amirul mukminin memandang perlu untuk mengangkat anaknya sebagai khalifah atas kalian sepeninggalnya. Dia bermaksud untk menerapkan cara Abu Bakar dan Umar.”
Abdurrahman Ash-shiddiq yang hadir di tempat tersebut berdiri seraya berkata, “ini bukan cara Abu Bakar dan Umar, melainkan cara kaisar (raja/monarki) karena Abu Bakar dan Umar tidak pernah mewariskan kekhalifahannya kepada anak-anaknya, bahkan tidak pula kepada keluarganya.”
Para sahabat tidak sepakat namun Muawiyah bersikeras melaksanakan niatnya, bahkan dia juga mengambil baiat penduduk makkah untuk anaknya saat dia menunaikan ibadah haji pada 51 H.
Abdullah bin Umar, Abduraahman bin Abu bakar, dan Abdullah bin Zubair tidak mau membaiat Yazid, namun Muawiyah mengklaim dalam pidatonya bahwa para putra sahabat tersebut telah membaiat Yazid. (lihat kitab tarikh al-khulafa terjemahan karangan imam as-suyuti hal 235).
Ketika muawiyah meninggal maka penduduk syam membaiat Yazid bin Muawiyah abu Khalid Al-umawi, dan beberapa utusan pergi ke madinah agar orang di sana membaiat dirinya, namun Husain dan Abdullah bin Zubair menolak membaiatnya. Keduanya pergi menuju makkah.

Peristiwa KARBALA
Husain mendapatkan surat dari penduduk kufah yang meminta dirinya untuk datang ke kufah di masa Muawiyah, namun Husain menolaknya. Kemudian, ketika Yazid dibaiat, mereka kembali mengirimkan surat dan memintanya untuk datang ke Kufah, Husain pun berminat untuk pergi ke Kufah dan menemui mereka. Abdullah bin abbas melarangnya. Dia berkata, “jangan kaulakukan itu.” Abdullah bin Umar melarangnya hingga ia merangkulnya dan menangis. Abdullah bin abbas kemudian berkata lagi,” Demi Allah, aku menduga bahwa engkau akan dibunuh bersama keluargamu sebagaimana utsman telah dibunuh.”
Namun husain tidak mengindahkan nasihatnya. Lalu orang-orang Irak mengirim delegasi dan menulis surat kepada Husain untuk segera datang ke Irak pada tanggal 10 Dzulhijjah bersama beberapa orang keluarganya, baik laki-laki maupun perempuan, serta keponakannya. Yazid bin Muawiyah segera mengirim surat kepada Ubaidullah bin Ziyad untuk membunuhnya. Ziyad mengutus pasukan sebanyak 4ribu orang yang dipimpin umar bin sa’ad bin abi waqqash. Namun, orang-orang irak sama sekali tidak membela husain, sebagaimana yang mereka lakukan kepada ayahnya. Ketika mereka telah mengangkat senjata, Husain memberikan pilihan antara menyerah, kembali ke Makkah, atau menyerahkan diri kepada Yazid. Namun, mereka menolak tawaran apapun dari Husain dan bersikeras untuk membunuhnya dan keluarganya. Kemudian, Husain pun dibunuh dan kepalanya diletakkan dalam baskom untuk diberikan kepada Yazid. Semoga Allah melaknat orang yang membunuhnya. Begitu juga dengan Ziyad dan Yazid bin Muawiyah.
Husain dibunuh di Karbala. Ada kisah yang sangat memilukan terkait dengan pembunuhannya. Hati kita tidak akan sanggung menanggung beban kesedihan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 26 orang lainnya terbunuh, dunia seakan berhenti selama 7 hari. Matahari seolah mendekat ke bumi, kilau cahayanya laksana kain yang menguning. Bintang-bintang seperti bertabrakan. Dia dibunuh pada tanggal 10 Muharam. Pada hari itu, terjadi gerhana matahari. Ufuk langit menjadi merah menyala selama 6 bulan secara terus menerus, padahal hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. (imam as-suyuti dalam kitab tarikh al khulafa hal:249)
Konon, di setiap balik batu yang ada di baitul maqdis ditemukan darah kental. Tumbuhan-tumbuhan yang berwarna hijau di barak tentara mereka laksana bara. Saat mereka menyembelih unta, pada daging unta tersebut mereka dapati sesuatu seperti nyala api. Lalu mereka memasaknya dan ternyata daging unta tersebut laksana buah a’laqam (buah yang rasanya sangat pahit). Suatu ketika, ada yang mencaci-maki Husain, Lalu Allah melemparkan kepadanya dua benda dari langit hingga kedua matanya menjadi buta. (ibid,paragraf 3)
Salma berkata, “aku menemui Ummu Salamah yang saat itu sedang menangis. Aku bertanya kepadanya, ‘apa yang membuatmu menangis?’ dia berkata,’sesungguhnya, aku bermimpi melihat Rasulullah Saw. aku melihat kepala dan jenggot beliau berdebu. Aku bertanya kepadanya, ‘mengapa engkau, ya Rasulullah?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘aku baru saja menyaksikan pembunuhan Husain.’” (Tirmidzi, dalam tarikh al-khulafa)
Imam baihaqi dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, “aku bermimpi melihat Rasulullah Saw. saat itu tengah hari, aku melihat rambut Rasulullah Saw. berantakan dan berdebu dan tangan beliau memegang botol yang berisi darah. Lalu, aku berkata kepadanya, ‘demi ayah dan ibuku! Apa itu, ya Rasulullah?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘ini adalah darah Husain dan para sahabatnya. Sejak hari ini, aku mengumpulkan darahnya yang tercecer.’ Lalu, aku menghitungnya, dan ternyata orang-orang mendapati Husain telah terbunuh pada hari itu.”
Ummu salamah berkata, “Aku mendengar jin menangis dan meratapi kematian Husain.” (Abu Nu’aim dalam kitab Ad-Dalail.)
Khabbab Al-Kalbi berkata, “suatu ketika, aku datang ke karbala. Lalu, aku bertanya kepada salah seorang yang terpandang di kalangan Arab, ‘aku mendengar bahwa kalian mendengar suara ratapan jin?’ Dia berkata, ‘setiap orang yang kautemui pasti mengatakan bahwa dia mendengar ratapan itu.’ Aku berkata, ‘katakanlah apa yang telah kamu dengar itu padaku.’ Dia berkata, ‘aku mendengar para jin bersenandung:
Rasulullah Mengusap Keringat yang berkilau di keningnya
Kedua orangtuanya bangsawan Quraisy
Dan kakeknya adalah sebaik-baik kakek” (Tsa’lab dalam kitab Al-Amali dari Khabbab Al-Kalbi)
Jika saya terjemahkan bebas syair di atas maka menggambarkan Rasulullah terlihat cemas hingga keluar keringat di keningnya. (penulis)
Setelah husain dan saudara-saudaranya dibunuh, kepala mereka dikirim kepada Yazid bin Muawiyah. Dia merasa gembira atas terbunuhnya Husain dan para pengikutnya. Namun, akhirnya dia menyesali tindakannya itu karena umat islam sangat membenci hal yang dilakukan. Perbuatanya sangat keji dan biadab.
Rasulullah Saw. bersabda. “umatku akan tetap dalam menegakkan keadilan hingga datang seorang dari bani Umayyah yang mengacak-acaknya.” Sebuah riwayat mengatakan bahwa orang itu bernama Yazid.

Neo Karbala.
Awal sebuah sejarah yang dikabarkan Rasulullah Saw tentang penguasa yang Zalim begitu dalam menusuk jantung islam hingga lukanya teramat sakit. Sakitnya luka yang ditimbulkan oleh insiden Karbala masih mampu di obati dengan silih bergantinya khalifah selanjutnya. Baik oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz dan para khalifah lainnya, sebagaimana komentar Will Durant – dalam bukunya The Story of Civilization

” Para Kholifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Kholifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setalah masa mereka ”

Dengan demikian luka-luka itu berangsur-angsur sembuh karena aqidah dari sistem tersebut masih islam dengan tetap berlangsungnya kekhilafahan islam.

Pada periode berikutnya Rasulullah menyampaikan bahwa setelah penguasa yang Zalim maka akan datang masa penguasa yang diktator. Pada awal masa ini umat islam dihadapkan dengan peristiwa yang menyakitkan kaum muslimin. Pada hari Senin tanggal 3 Maret 1924 (28th Rajab 1342AH), dunia dikejutkan oleh berita bahwa Mustafa Kemal di Turki secara resmi telah menghapus Khilafah. Pada malam itu Abdul Majid II, Khalifah terakhir kaum muslimin, dipaksa untuk mengemas kopernya yang berisi pakaian dan uang ke dalam kendaraan nya dan diasingkan dari Turki, dan tidak pernah kembali. Dengan cara itulah pemerintahan Islam yang berusia 1342 tahun berakhir.

Senin itu seolah mengingatkan kita tentang peristiwa di Karbala pada masa Umayyah. Kali ini bukan satu orang yang dipenggal kepalanya oleh penjajah. Melainkan milyaran orang siap untuk dipenggal orang-orang kafir, bahkan merekapun ikhlas memenggal kepalanya sendiri setelah sedikit di racuni oleh antek setan dengan pemikiran kotornya.

Ini adalah peristiwa karbala terbesar setelah periode penguasa yang zalim. Karena yang mati disini bukanlah manusia melainkan sistem yang mengatur manusia, ketika sistem yang mati maka mudah saja untuk pengatur manusia itu agar mati dengan sendirinya atau mati seketika itu juga. Para penguasa kafir pun sangat sumringah terlihat dari pengakuan Lord Currzon dengan mengatakan,” Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, khilafah dan islam.”

Maka Inilah Karbala kedua — puncak kemerosotan kaum muslim yang memang sudah lama menggerogoti tubuh umat. Atas nama Dewan Agung Nasional Turki (Al Jam’iyyatu al Wathaniyah al Kubro), Kamal merubah Turki menjadi Republik dengan asas sekulerisme. Tidak hanya itu, Kamal melakukan proses sekulerisasi dengan tangan besi. Hukum syara’ pun diganti, dianggap kuno dan tidak manusiawi. Segala yang berbau Islam, dituduh berbau Arab, dan harus diganti. Mulai dari bahasa Arab, pakaian Arab, sampai adzan semua harus diubah. Islam dicampakkan. At Tatturk lupa, Islamlah yang membuat umat Islam, rakyat Turki, jaya dan gemilang.Sekarang, Penderitaan umat semakin bertambah. Negeri-negeri Islam terpecah belah menjadi puluhan negara yang dikontrol oleh penjajah Barat. Negara lemah, yang tidak bisa menolong saudaranya sendiri. Bayangkan, mereka tidak bisa menyelamatkan Pelestina, yang dijajah Israel. Rakyat Irak dibantai, Fallujah negeri dengan seribu menara masjid dinodai, tapi penguasa-penguasa negeri-negeri Islam yang sekuler itu sekedar jadi penonton. Darah kaum muslim, demikian gampang ditumpahkan oleh penjajah Amerika Serikat dan sekutunya dibantu agen-agen pengkhianat dari umat Islam sendiri. Mulai dari Palestina, Irak, Afghanistan, Bosnia, Chechnya, Uzbekistan, Sudan, Pattani Thailand, Moro Philipina, Poso, Ambon, Aceh. Padahal jumlah kaum muslim lebih dari 1,5 milyar. Kemiskinan, kebodohan, konflik, kemaksiatan pun identik dengan negeri-negeri Islam. Inilah buah sekulerisasi. Inilah buah diruntuhkannya Khilafah

Jika karbala waktu itu masih bisa segera diselamatkan karena kekhilafahan masih berjalan, maka karbala saat ini kian hari kian menjadi-jadi. Darah kaum muslimin tumpah dan mampu mewarnai samudra. Pemikiran kaum muslimin bias dan tercemar racun sampai pekat kelam. mereka mengatakan demokrasi yang merupakan anak sekulerisme adalah sistem terbaik dan wajib untuk mereka. Mereka memperjuangkan apa yang seharusnya dilenyapkan, yakni kapitalisme. Mereka meremehkan bahkan mengharamkan apa yang seharusnya mereka tegakkan, yakni ideologi islam. Maka tak heran kini insiden karbala menjadi lebih canggih dari pada pesawat ulang alik yang menerjang bulan, insiden karbala secara otomatis berjalan, dan secara otomatis manusia akan bunuh diri dengan kerelaan. Karena sistem sekarang adalah produser karbala yang dibingkai indah nan mempesona.

Inilah saatnya kalian tersadar atau mencari penyadaran untuk menghentikan sistem kapitalisme yang merupakan jelmaan insiden karbala. Tumbangkan dengan penyadaran bukan dengan pendarahan. Tumbangkan pada urat nadi pemikirannya bukan pada pembulu darah lengan kanan. Asalah pedang pemikiran kalian untuk menaklukan rasa nikmat para korban sistem neo karbala ini. Timba dan siramlah pikiran kalian untuk menyejukkan saudara kita yang telah salah arah. Gaungkan dengan menyatukan teriakan, menggalang pasukan untuk tegaknya kembali kekhilafahan islam yang merupakan kewajiban dan janji Allah yang disampaikan melalui utusan mulianya Rasul Saw.

sumber sejarah: kitab tarikh al-khulafah karya imam as-suyuti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s